Film Karya Santri PP Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja Jadi Juara Nasional 2026

0
IMG-20260901-WA0136

RTNews. Banyumas || Dari kesederhanaan pondok, lahir karya yang mengharumkan nama pesantren. Faiz Musyafa’ bersama kru dan pemain film “Sisa Untukmu” dari Pondok Pesantren NU Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja, Banyumas, berhasil meraih Juara 1 Kategori Film Pendek Fiksi Festival Film Santri Nasional 2026 yang digelar RMI PBNU dalam rangkaian Muktamar Ke-35 PBNU. Tambak Beras Jombang (27-31 Agustus 2026).

Film berdurasi maksimal tujuh menit itu digarap selama dua minggu pada 2025/2026, terinspirasi dari kehidupan nyata, budaya dan dinamika keseharian santri.

Festival diikuti puluhan hingga ratusan karya pesantren dari berbagai daerah di Indonesia.

Faiz menyampaikan kemenangan tersebut sebagai bentuk syukur sekaligus bukti bahwa keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk berprestasi, Ia berpesan agar santri

“Terus konsisten berkarya, berani mengeksplorasi dunia digital dan perfilman, serta menjadikan kehidupan pesantren sebagai sumber inspirasi.” Pesannya.

Apresiasi juga diberikan kepada seluruh tim, Faiz Musyafa’, Najwadani Anggriawan, Jundi Afiq Nabiha, Hilmy Alim Khairy, serta para pemain Zulfian Rajafa Hanafi, Muhammad Rizki, Brilian Shidqi, Muhammad Galih Romadhon dan Azhar Nur Rahman.

Orang tua Faiz, Rislam Ramadhan dan Ahfidzotun Massumah, menyebut prestasi itu sebagai anugerah yang lahir bersama doa dan dukungan pesantren.

“Kami yakin apa yang diraih Faiz adalah karena rida ustaz dan ustazah, karena doa-doa beliau dan doa orang yang sayang kepada Faiz,” ungkapnya.

Pengasuh utama Ponpes Abdul Djamil Tebuireng 17, H. Imam Purwanto (Anto Djamil), bersama K.H. Irchamni dan KH. Muhammad Husain, kepada awak media Selasa (01/09/2026) menyampaikan apresiasi.

“Selamat atas suksesnya dalam berlaga, berkarya, dan berkreasi mulia. Semoga membawa nama baik Pondok Pesantren NU Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja berkibar di tingkat nasional. Luar biasa,” tuturnya.

Dari pondok menembus nusantara, dari doa melahirkan karya, santri berkarya, pesantren berjaya.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *