MENCEKIK! Harga Sayur di Banjarmasin Gila-Gilaan, Harga Cabai Semakin Pedas
RTNews. BANJARMASIN – TERIK matahari kemarau yang menyengat Kota Banjarmasin saat ini tidak hanya mengeringkan sumber air, tetapi juga mencekik urat nadi dapur rumah tangga.
Pemandangan di lorong – lorong pasar tradisional menjadi buktinya. Tumpukan sayuran hijau tampak tak sesegar biasanya. Di deretan lapak, raut wajah pedagang dan pembeli sama – sama berkerut saat tawar – menawar harga yang kini melonjak tak terkendali.
Bencana kekeringan yang melanda wilayah Kalimantan Selatan memicu anomali harga pangan yang luar biasa ekstrem.
Masriah (45) pedagang sayur di Pasar Tradisional Jalan Pemurus, Kecamatan Banjarmasin Selatan, saat ditemui. Radartelusurnews.com. Sabtu (19/9/2026) membeberkan rentetan harga yang dinilainya sudah tidak wajar.
Sayuran daun yang sangat rentan terhadap cuaca panas mengalami lonjakan paling parah.
Mahal sekali. Sawi keriting lima puluh (ribu) kecambah empat puluh, kacang panjang lima puluh, buncis delapan puluh,” ungkap Masriah dengan nada getir. Padahal, beberapa bulan lalu sebelum puncak kemarau, harga komoditas ini sangat murah dan stabil. Sawi keriting hanya Rp 8.000 hingga Rp 20.000 per kilogram. Buncis normalnya Rp 26.000 – Rp 30.000/kg, kacang panjang hanya belasan ribu. Jagung yang biasanya Rp 90 ribu per karung, kini sudah mencapai Rp 250 ribu.
Lebih mencengangkan lagi adalah harga cabai yang bertahan di angka ratusan ribu rupiah.
Sekarang lima belas (ribu) satu ons. Cabai keriting dua puluh, cabai rawit dua puluh. Sekilo seratus delapan puluh kalau ambil kiloan. Lagi mahal semua,” tambahnya.
Sebagai perbandingan, pada kondisi normal pertengahan tahun ini, cabai rawit merah di Banjarmasin hanya berkisar Rp 30.000 hingga Rp 60.000 per kilogram. Kenaikan yang menyentuh 300 persen ini jelas memukul telak pedagang kecil.
Keringnya pasokan lokal juga dikeluhkan Ahmad (40) pedagang bumbu dapur di Pasar Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar.
Menipisnya pasokan dari petani lokal di Kalsel memaksa pedagang bergantung pada stok dari luar daerah.
Pasti naik semua barang (yang lokal) bang. Kecuali barang – barang yang dari Jawa, itu tak pengaruh walaupun ada kenaikan, tapi tidak seberapa. Kalau barang – barang lokal macam jahe, kunyit, serai, itu pengaruh,” jelas Ahmad. Ia mencontohkan jahe yang awalnya Rp 40.000 kini merangkak menjadi Rp 50.000.
Sulitnya pasokan membuat Ahmad harus gesit melihat ketersediaan di distributor. Lihat – lihat kalau barang habis, baru saya ambil. Barangnya susah dicari,” tuturnya.
Bagi pedagang kecil seperti Ahmad dan Masriah, kemarau panjang ini bukan sekadar menahan peluh di balik lapak yang gerah. Ini adalah pertaruhan modal setiap hari. Menaikkan harga terlalu mahal berarti risiko sayuran layu dan membusuk tanpa pembeli, namun membiarkan lapak kosong berarti memutus periuk nasi keluarga.
Keluhan serupa datang dari pembeli. Yanti, seorang ibu rumah tangga, mengaku syok.
Biasanya dulu saya beli lombok 2 ribu sudah banyak bahkan sampai satu Minggu baru habis, sekarang beli 2 ribu cuma dapat 10 biji,” ujarnya.
Begitu juga labu, dulunya saya beli 3 ribu sudah bisa untuk masak 2 hari, saat ini beli 3 ribu tidak dilayani oleh pedagang dan harus beli 5 ribu,” keluhnya.
(Radartelusurnews.com) Herman Soetiady
