Bupati Banyumas Sadewo Dukung Green Movement Muhammadiyah Dorong Pengelolaan Sampah Bernilai Ekonomi

0
IMG-20260923-WA0049

RTNews. Banyumas || Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono beserta tamu undangan lainnya dampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Hanif Faisol Nurofiq dalam acara Pengukuhan Satgas Green Movement Muhammadiyah (GreenMu) yang digelar di Hotel Java Heritage Purwokerto, Selasa (22/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum penguatan kolaborasi dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong pengelolaan sampah yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas M. Djohar dalam laporannya menyampaikan bahwa Muhammadiyah Banyumas terus mengambil langkah konkret dalam menangani persoalan lingkungan, khususnya sampah plastik dan botol.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah meluncurkan gerakan pengelolaan sampah berbasis digital melalui aplikasi GreenMu. Gerakan tersebut dilaksanakan secara masif dan sistematis mulai dari tingkat ranting, cabang, hingga daerah.

“Untuk efektivitas program ini, PDM Banyumas meresmikan pengukuhan 1.014 Satgas GreenMu yang tersebar di tingkat ranting dan cabang,” jelas Djohar.

Melalui gerakan tersebut, persoalan sampah di Kabupaten Banyumas diharapkan tidak hanya dapat ditangani dari sisi lingkungan, tetapi juga dikonversi menjadi peluang ekonomi yang memberikan manfaat dan keberkahan bagi masyarakat.Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas dengan Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kerja sama tersebut berfokus pada program penanaman pohon buah seluas 10 hektare yang memanfaatkan lahan wakaf.

“Program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus menjadi kawasan konservasi hijau produktif bagi warga Banyumas,” ungkap Djohar.

Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyampaikan bahwa krisis lingkungan, mulai dari persoalan sampah, pencemaran, hingga berkurangnya tutupan hijau, bukan lagi persoalan yang dapat diabaikan.

“Menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari amanah kepemimpinan manusia di bumi serta bentuk tanggung jawab moral kepada Allah SWT dan generasi mendatang,” ungkap Sadewo.

Menurutnya, Kabupaten Banyumas selama ini telah memiliki rekam jejak sebagai salah satu daerah yang terus berinovasi dalam pengelolaan sampah. Capaian tersebut menjadi modal penting untuk terus mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Sadewo menyampaikan bahwa saat ini sebagian besar sampah di Banyumas telah berhasil dikelola dan pengelolaannya tidak lagi semata-mata mengandalkan sistem pembuangan akhir atau landfill.

“Sekitar 77% sampah di Banyumas telah berhasil terkelola, sementara sisanya terus kita dorong agar dapat ditangani melalui sistem pengelolaan yang lebih baik,” jelas Sadewo.

Sejalan dengan capaian tersebut, Sadewo menyambut baik gerakan GreenMu dan mendorong agar gerakan tersebut dapat mengakselerasi cita-cita Zero Waste to Money, yakni pengelolaan sampah yang mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.Menurut Sadewo, pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Sadewo menilai pengelolaan sampah menjadi sumber nilai ekonomi perlu terus diperkuat dibandingkan hanya berorientasi pada pemanfaatan sampah sebagai sumber energi.

“Pengelolaan sampah di Banyumas diarahkan agar memberikan nilai tambah ekonomi atau Zero Waste to Money. Pendekatan Zero Waste to Energy memerlukan biaya pengolahan yang jauh lebih tinggi daripada nilai energi yang dihasilkan, sebagaimana yang telah dipelajari dari beberapa daerah lain,” ujar Sadewo.

Sadewo juga mengapresiasi arah Green Movement Muhammadiyah yang menitikberatkan pada aksi nyata dan pemberdayaan masyarakat.Menurutnya, terdapat sejumlah langkah strategis yang dapat dikembangkan bersama, antara lain pengelolaan sampah organik dan anorganik melalui edukasi serta pemilahan secara masif dan sistematis mulai dari rumah tangga, sekolah, tempat ibadah, hingga perkantoran.Selain itu, pemanfaatan tanah wakaf untuk kepentingan ekologis juga dinilai memiliki potensi besar. Lahan wakaf Muhammadiyah dapat dioptimalkan untuk penanaman pohon produktif yang memberikan manfaat ekologis sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat dan persyarikatan.

Pemberdayaan para ahli dan komunitas juga menjadi bagian penting dalam pengembangan gerakan tersebut, termasuk melibatkan berbagai pihak dalam pengelolaan sampah organik secara terpadu.

“Persoalan lingkungan hidup tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah sendirian,” kata Sadewo.

Karena itu, Sadewo menyatakan kesiapan untuk terus membangun sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari organisasi kemasyarakatan, dunia pendidikan, pelaku usaha, komunitas, hingga seluruh elemen masyarakat.

“Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat gerakan pengelolaan lingkungan di Banyumas sehingga persoalan sampah tidak hanya dapat dikurangi, tetapi juga diubah menjadi sumber manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis bagi masyarakat secara berkelanjutan,” ungkap Sadewo.

(Warto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *