LKKNU Bersama LTMNU PCNU Banyumas Bergerak, Bentengi Generasi dari PEKAT

0
IMG-20261003-WA0122

RTNews. Banyumas || Kepedulian terhadap masa depan generasi terus digelorakan. LKKNU bersama LTMNU PCNU Banyumas menggelar Seminar Pencegahan Penyakit Masyarakat (PEKAT) di Aula PCNU Banyumas, Sabtu (03/10/2026).

Kegiatan dibuka Ketua PCNU Banyumas Drs. H. Imam Hidayat, M.Pd.I., diikuti 102 peserta, melampaui target 80 orang. Peserta terdiri atas imam masjid, khatib, serta pengurus LKKNU dan LTMNU.

Materi seminar mencakup pencegahan judi online, narkoba, minuman keras, perilaku seksual berisiko, HIV/AIDS, LGBT, sekaligus penguatan edukasi, pendampingan dan kesetaraan layanan masyarakat.

Ketua PCNU Banyumas Drs. H. Imam Hidayat, M.Pd.I. menegaskan, pencegahan penyakit masyarakat bukan tugas satu lembaga, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

“Pembasmian penyakit masyarakat bukan domain satu pihak saja, tetapi milik semua elemen masyarakat. Seminar ini tidak boleh berhenti sebagai seminar. Harus ada action.”

Menurut Imam, masjid harus mampu menjadi ruang edukasi dan pendampingan masyarakat. LKKNU juga diharapkan mengembangkan bimbingan serta konseling hingga tingkat desa.

“Bagaimana masjid menjadi ramah dan mampu menyelesaikan persoalan melalui forum di masjid. Kita ingin mewujudkan Banyumas yang bersih dari penyakit masyarakat sehingga pada akhirnya menjadi sejahtera.”

Ia menegaskan langkah berikutnya perlu dilakukan melalui pemetaan persoalan dan kolaborasi hingga tingkat kecamatan.

“Kita semuanya harus bergerak bersama, tidak bisa sendiri-sendiri, karena ini penyakit masyarakat.”

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Ketua PC LKKNU Kabupaten Banyumas turut mengambil peran, antara lain mewakili Rois Syuriyah dalam pembacaan doa, menyampaikan program-program BAZNAS, serta mewakili LKKNU dan LTMNU menyampaikan terima kasih kepada BAZNAS atas dukungan terhadap kegiatan tersebut.

Dukungan itu diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan untuk memperkuat edukasi, pendampingan, ketahanan keluarga dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Wakil Ketua IV BAZNAS Banyumas H. Kodir, S.H.I., M.Pd., mewakili Ketua BAZNAS Hj. Khasanatul Mufidah, S.H., menyerukan agar program tersebut terus dilanjutkan melalui kolaborasi berbagai pihak.

“Harapan kami ini bukan hari ini saja. BAZNAS akan berusaha semaksimal mungkin bekerja sama dengan seluruh komponen masyarakat untuk mewujudkan Banyumas yang produktif, adil dan sejahtera.”

Sementara Kompol Sutrisno, S.H., M.H., Kasat Binmas Polresta Banyumas, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi membuat judi online dan berbagai perilaku berisiko semakin mudah menjangkau masyarakat, terutama generasi muda.

“Judi online harus dijauhi karena dampaknya tidak hanya menyentuh persoalan hukum, tetapi juga dapat merusak kehidupan sosial, ekonomi dan masa depan generasi muda.”

Kompol Sutrisno juga mengingatkan bahaya kenakalan remaja, narkoba dan seks bebas yang dapat dipengaruhi lingkungan pergaulan, keluarga, teman sebaya, pornografi, miras maupun teknologi.

Pesannya sederhana namun tegas: “Hidup sehat, narkoba tidak, prestasi yes.”

Dari sisi kesehatan, Drs. Suwondo, MM, memaparkan bahwa sepanjang Januari-Agustus 2026 terdapat 204 kasus baru HIV/AIDS yang terdeteksi melalui layanan kesehatan di Banyumas.

Sebanyak 116 kasus merupakan warga berdomisili Banyumas dan 88 kasus lainnya berasal dari luar Banyumas. Dari keseluruhan kasus tersebut, 164 laki-laki atau 80 persen dan 40 perempuan atau 20 persen.

Temuan terbanyak di tingkat kecamatan tercatat di Wangon 11 kasus, Sokaraja 10 kasus, serta Cilongok dan Sumbang masing-masing 9 kasus.

Suwondo menekankan pentingnya deteksi dini, kepatuhan terapi ARV, akses layanan kesehatan serta penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV.

“HIV tidak menular melalui sentuhan, bersalaman, gigitan nyamuk, penggunaan toilet bersama, bertukar pakaian, maupun berbagi makanan atau minuman.”

Ia menjelaskan HIV dapat dikendalikan melalui terapi ARV yang dilakukan secara disiplin. Ketika jumlah virus tidak terdeteksi, prinsip Undetectable = Untransmittable (U=U) menjadi bagian penting dalam edukasi pencegahan penularan.

Sementara itu, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Purwokerto Vinca Meitasari, S.E., M.M., memberikan edukasi mengenai perlindungan pekerja melalui Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian dan Jaminan Hari Tua.

Untuk pekerja sektor informal, iuran dasar perlindungan BPJS Ketenagakerjaan sebesar Rp16.800 per bulan, dengan pilihan tambahan JHT Rp20.000.

“Hari apes tidak ada di kalender. Kalau terjadi sesuatu, kita punya sesuatu yang bisa ditinggalkan untuk istri dan anak.”

Ketua LKKNU Banyumas H. Kodir berharap workshop tersebut menjadi bekal bagi para imam masjid dan khatib untuk meneruskan edukasi kepada masyarakat.

“Semoga kegiatan ini memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menjauhi hal-hal tersebut, sehingga dapat mewujudkan hidup sehat jasmani dan ruhani menuju keluarga maslahah.”

Kegiatan juga ditandai launching sekaligus penyerahan cendera mata dua buku/modul edukasi kepada peserta.

Buku pertama berjudul “Merawat Fitrah, Menyelamatkan Generasi”, kompilasi khutbah MUI Kabupaten Banyumas tentang edukasi bahaya Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), karya Enjang Burhanudin Yusuf, Rujito, Abdul Rohman, Muh. Hizbul Muflihin dan Imam Tahyudin.

Buku kedua berupa Modul Edukasi Pencegahan HIV & AIDS, dilengkapi Naskah Khutbah Lintas Iman, sebagai bahan edukasi untuk memperkuat pemahaman, pencegahan dan kepedulian masyarakat terhadap HIV/AIDS secara humanis dan berkesinambungan.

Ketua Panitia Prof. Takiyudin menyampaikan selamat datang kepada para peserta dan narasumber, ucapan terima kasih atas kehadiran serta dukungan berbagai pihak, sekaligus permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan.

Rangkaian kegiatan dimulai registrasi pukul 08.30 WIB, dilanjutkan pembukaan, materi dan tanya jawab, sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan dan BAZNAS, launching serta penyerahan modul, hingga penutupan pukul 12.15 WIB.

Diskusi berlangsung antusias. Peserta aktif bertanya dan seluruh pertanyaan mendapat penjelasan dari para narasumber.

Dari Aula PCNU Banyumas, pesan itu menemukan jalannya: pencegahan bukan sekadar kata, tetapi ikhtiar bersama, dari masjid, keluarga, lingkungan hingga masyarakat. Menjaga generasi berarti merawat martabat; merawat kehidupan berarti menjemput Banyumas yang lebih sehat, damai, produktif dan sejahtera.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *