SABDA PALON: YANG KEMBALI BUKAN SOSOKNYA, TAPI KESADARANNYA
_Mazhab Nusantara — Catatan Filosofis_
Dalam tradisi lisan Jawa dikenal janji: “500 tahun aku akan kembali.”
RTNews. BALI – Banyak yang menafsirkan janji itu sebagai kembalinya seorang tokoh sakti, manusia super, atau ratu adil yang akan menyelesaikan semua masalah dengan kekuatan supranatural.
Tafsir seperti itu wajar sebagai cerita, tetapi berisiko membuat kita hanya menunggu. Menunggu sosok penyelamat, sambil lupa memperbaiki diri, sistem, dan kehidupan bersama.
Ada tafsir lain yang lebih membumi dan lebih bertanggung jawab.
*Yang kembali bukan raganya, tapi rasanya. Bukan orangnya, tapi nilainya. Bukan sosoknya, tapi kesadarannya.*
Sabda Palon dapat dipahami sebagai simbol kesadaran asli Nusantara — kesadaran yang ingat jati diri, yang menimbang dengan Budi, yang berani bersikap patut ketika keadaan menyimpang.
Kesadaran itu yang sempat meredup ketika kita terlalu lama menjadi peniru, terlalu lama menjadi pengguna teknologi bangsa lain, pemasok bahan mentah, dan pasar bagi produk luar, sambil perlahan melupakan akar kebijaksanaan sendiri.
Ketika janji 500 tahun itu dibaca sebagai kembalinya kesadaran, pesannya menjadi jelas dan menuntut tanggung jawab kita.
*Tiga tanda kesadaran itu kembali:*
*1. Eling — Ingat Jati Diri*
Manusia kembali ingat siapa dirinya. Bahwa manusia Nusantara bukan bangsa pinggiran. Memiliki sejarah, adat, akal budi, dan kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Eling adalah lawan dari lupa akar.
*2. Waspada — Budi Menimbang*
Di tengah banjir informasi, kecerdasan buatan, adu domba, dan godaan kekuasaan, manusia tidak lagi bereaksi secara emosional dan terburu-buru. Ia menimbang dengan hati dan nalar, membedakan mana yang benar dan mana yang hanya menguntungkan sesaat. Waspada adalah Budi yang bekerja.
*3. Tanggap — Berani Benar*
Kesadaran tidak berhenti di dalam pikiran. Ia menjelma menjadi keberanian untuk bertindak benar ketika situasi menuntut. Berani berkata tidak pada korupsi, tidak pada penyalahgunaan kekuasaan, tidak pada ketidakadilan. Berani membangun pendidikan, tata kelola yang bersih, dan kemandirian bangsa.
Dengan tafsir ini, Sabda Palon bukan sosok sakti yang turun dari langit.
Sabda Palon adalah keberanian kolektif yang bangkit dari dalam diri kita sendiri — ketika masyarakat sudah tidak tahan lagi melihat ketimpangan, ketika generasi muda bertanya untuk apa kekayaan alam jika tidak menghasilkan keadilan, ketika bangsa menyadari bahwa kemajuan tidak cukup diukur dari angka, tetapi dari kualitas manusia, keadilan, dan keberlanjutan kehidupan.
> Ketika manusia lupa akar, alam memberi isyarat.
> Yang kembali adalah keberanian untuk bersikap patut.
Itulah yang kembali. Bukan manusia super yang menyelesaikan masalah kita.
Tetapi kesadaran bahwa kita sendirilah yang harus membangun peradaban — dengan Budi, dengan ilmu pengetahuan, dengan kelembagaan yang layak dipercaya, dan dengan landasan nilai Pancasila.
_Wes wayahe._
Sudah waktunya.
(Diteruskan oleh Biyung AR,Bali)
