Misteri di Balik Doa Jum’at malam Mbah Sod, Langit Pasirlor Bergetar
RTNews. Banyumas – Sebuah gelombang spiritual yang tak biasa menyelimuti wilayah Pasir Lor, Karanglewas, pada Jumat malam (02/05/2026).
Di tengah suasana khidmat Majelis Silaturrahmi kordinasi Rutin yang dihadiri seluruh jajaran pengurus, guru, dan tata usaha Madrasah Al Ittihaad 2 Pasirlor, KH. M. Aki Sodikin (Mbah Sod) melepaskan “bom” spiritual yang menggetarkan sanubari para pendengar.
Dalam orasinya yang menggelegar, Mbah Sod mengawali nasihatnya dengan peringatan keras dari Rasulullah SAW bagi mereka yang berkelimpahan harta namun menutup mata dari ibadah qurban.
“Kanjeng Nabi Muhammad SAW itu sangat tegas bagi orang yang mampu tapi tidak mau berqurban. Beliau bersabda bahwa silakan pilih, mau mati sebagai Yahudi atau Nasrani? Ini bukan sekadar ancaman, tapi penegasan bahwa qurban adalah identitas ketaatan yang mutlak. Maka bagi kita, qurban bukan lagi sekadar sunnah kolektif (Kifayah), melainkan kewajiban pribadi (Ain Muakkadah) yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan langit,” tegas beliau dengan nada berwibawa.
Melanjutkan syiarnya, Mbah Sod membedah hakikat penyembelihan dengan logika yang menghujam ego manusia. Beliau menekankan bahwa ibadah ini adalah ujian ketajaman batin, bukan sekadar pamer kemewahan hewan ternak.
“Qurban itu bukan soal seberapa besar sapi yang tumbang atau seberapa banyak daging yang digantung, tapi seberapa tajam pisau keikhlasanmu mampu menyembelih ego, memangkas kikir, dan menghancurkan berhala nafsu keduniawian di dalam dadamu. Jangan sampai sapinya yang mati, tapi sifat kebinatangan dalam diri kita justru tetap hidup subur. Pisau itu harus lebih dulu menyayat kesombongan kita sebelum menyentuh leher hewan qurban,” ungkapnya dengan sangat puitis.
Terkait pengelolaan di institusi, Mbah Sod memberikan logika cerdas mengenai tanggung jawab sosial Madrasah. Beliau menyoroti pentingnya pemerataan agar tidak terjadi ketimpangan sosial di lingkungan sekitar.
“Kita di Madrasah Al Ittihaad 2 tidak melangkah dengan sembrono. Kita mentasharufkan daging hingga keluar wilayah, bahkan sampai ke pesantren-pesantren, karena ada tanggung jawab syar’i yang berat di sana. Kita ingin memastikan bahwa di hari raya tersebut, tidak boleh ada sekat antara si kaya dan si miskin. Semua harus merasakan kemerdekaan dari rasa lapar, sebagaimana Rasulullah SAW memerdekakan para budak di hari Nahar. Ini adalah bentuk nyata dari kemerdekaan batin dan sosial,” jelas Mbah Sod.
Sebelum menutup pesannya, beliau membukakan tabir keberuntungan bagi hamba-hamba yang berqurban dengan ketulusan penuh.
Menurut beliau, keuntungan berqurban tidak akan habis dimakan waktu, karena ia berbuah manis di dunia dan menjadi cahaya di akhirat.
“Ketahuilah, bagi mereka yang berqurban, tidak ada kerugian sedikit pun. Di dunia, Allah akan mengganti setiap harta yang dikeluarkan dengan keberkahan yang berlipat ganda, rezeki yang tenang dan hati yang lapang.
Sedangkan di akhirat, setiap helai rambut hewan qurbanmu akan menjadi saksi yang meringankan langkahmu di atas titian, menjadi kendaraan kemuliaan yang membawamu menuju ridha-NYA. Qurban adalah investasi langit yang bunganya adalah surga,” terang Mbah Sod dengan penuh keyakinan.
Beliau pun menutup nasihatnya dengan pesan humanis yang mendalam mengenai cara memperlakukan sesama, terutama bagi mereka yang sering dianggap sebelah mata oleh masyarakat.
“Jangan pernah batasi mereka yang datang meminta dengan aturan administratif yang kaku atau prasangka buruk (suudzon). Kita tidak tahu latar belakang ekonomi mereka, tapi kita tahu mereka membawa doa. Bisa jadi, doa-doa tulus dari mereka yang datang dengan penuh harapan itulah yang lebih mustajabah dan menjadi penjaga keberkahan madrasah ini. Jadikan qurban tahun ini sebagai panggung pengabdian tertinggi, di mana ketulusan kita membumbung melewati cakrawala dan menyatu dalam dekapan kasih sayang-NYA yang abadi,” pungkasnya.
Pertemuan malam itu bukan sekadar rapat rutin, melainkan sebuah revolusi batin bagi keluarga besar Madrasah Al Ittihaad 2 Pasirlor Karanglewas, untuk menyongsong Idul Adha dengan jiwa yang benar-benar merdeka dan penuh kepedulian.
(Kontributor /Djarmanto-YF2DOI//Redaksi)


