Delapan Hari Tanpa Gawai, Sasiman PP Az Zuhri Tebarkan Kawelas Asihan untuk Generasi Z
RTNews. Semarang — Pondok Pesantren Az Zuhri Ketileng, Kota Semarang, kembali menorehkan ikhtiar pendidikan akhlak dengan sukses menggelar Santri Musiman (Sasiman) atau pesantren kilat selama libur sekolah.
Kegiatan yang diikuti 165 santri usia SD hingga SMP ini ditutup secara khidmat dan penuh kehangatan di Joglo Kampung Budaya FBS Unnes, Jalan Raya Banaran, Sekaran, Gunungpati, Senin malam (29/12/2025).
Pengasuh Pondok Pesantren Az Zuhri Ketileng Semarang, KH Muhammad Luqman Hakim, menegaskan bahwa Sasiman bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang pembentukan karakter yang dirancang dengan cinta dan keteladanan.
“Tema yang kami angkat tahun ini adalah Tebarkan Kawelas Asihan. Anak-anak generasi Z kami ajak untuk asih, asah, dan asuh, berinteraksi hangat dengan sesama selama delapan hari penuh tanpa bersentuhan dengan gawai atau ponsel,” tutur Gus Luqman dalam upacara penutupan.
Didampingi Ketua Panitia Sasiman, H. Agus Sumartono, Gus Luqman bersama istri menyerahkan hadiah kepada para santri berprestasi. Penghargaan diberikan kepada juara lomba konten Hari Ibu, pembuatan yel-yel Sasiman, serta berbagai kategori penilaian lainnya. Uniknya, para santri juga diberi ruang memilih ustadz dan ustadzah terbaik, sekaligus memilih ustadz-ustadzah yang dinilai paling “mengesalkan” dengan nuansa guyonan mendidik dan penuh keakraban.
Ketua Panitia Sasiman, H. Agus Sumartono, menjelaskan bahwa selain menanamkan nilai Kawelas Asihan, para santri juga dibiasakan dengan budaya 4S: Salam, Senyum, Sapa, dan Sopan.
“Penerimaan santri Sasiman kami buka melalui media sosial hanya selama empat jam, tidak sampai sehari. Dari sekitar 300 pendaftar, kami seleksi dan terima 165 anak usia SD hingga SMP,” jelas Agus, yang juga menjabat Bendahara Umum MUI Provinsi Jawa Tengah.
Selama delapan hari, para santri ditempa ajaran agama secara riang dan menggembirakan oleh Gus Luqman serta para ustadz dan ustadzah.
Proses pembelajaran diselingi permainan tradisional seperti dakon, lompat tali, gobak sodor, hingga berbagai latihan ketangkasan, agar nilai-nilai agama tumbuh alami dalam suasana ceria.
“Santri Musiman ini kami gelar dua kali setahun saat liburan sekolah. Tahun ini sudah memasuki tahun ketujuh. Kegiatan dimulai pukul 08.00 pagi hingga selesai setelah jamaah salat Isya. Santri tidak diperkenankan membawa ponsel atau alat komunikasi, dan seluruh kegiatan gratis, tanpa pungutan biaya,” tegas Agus.
Menjelang penutupan, pada hari terakhir Sasiman, para santri diajak ziarah menggunakan tiga truk TNI ke sejumlah makam ulama besar di Semarang, di antaranya makam Ki Ageng Pandanaran di Mugas, KH Sholeh Darat di Bergota, serta Mbah Genuk di Kompleks Wonderia, Jalan Sriwijaya. Ziarah ini menjadi bagian penguatan spiritual dan pengenalan jejak ulama pewaris nilai keislaman.
Dalam suasana haru, Gus Luqman menyapa para santri dengan pertanyaan sederhana namun bermakna, “Anak-anak kerasan di PP Az Zuhri?”
“Kerasaaan…,” jawab para santri serempak dengan wajah ceria.
Mereka kemudian saling bersalaman dan berpelukan, menutup delapan hari kebersamaan sebelum dijemput orang tua masing-masing.
Di akhir acara, Gus Luqman menitipkan pesan mendalam kepada para wali santri agar menjaga dan melanjutkan nilai adab serta akhlak yang telah ditanamkan selama Sasiman.
“Orang tua harus menjadi uswah hasanah, teladan yang baik bagi anak-anaknya. Apa yang kami tanamkan di pesantren akan tumbuh kuat jika dirawat di rumah,” pesan putra almarhum KH Saiful Zuhri Rosyid tersebut, menutup rangkaian Sasiman dengan doa dan harapan penuh berkah.
(Kontributor : Agus F/Djarmanto-YF2DOI//warto)


