Ikhtiar Doa Restu Khasanatul Mufidah, Menuju Muslimat NU Banyumas Modern dan Berdampak
RTNews. Purwokerto – Ketika fajar kepemimpinan baru mulai menyingsing di ufuk tanah Banyumas, sebuah ikhtiar mulia lahir dari rahim perjuangan kaum ibu. Dari balik layar wawancara virtual yang digelar pada Kamis (04/05/2026), atmosfer menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) Muslimat NU Kabupaten Banyumas mendadak bergetar hebat. Tokoh masyarakat religius yang dikenal luas sebagai Srikandi Kemanusiaan, Hj. Khasanatul Mufidah, S.H., secara resmi menyatakan kesiapannya untuk berkhidmat total sebagai Bakal Calon Kandidat Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Banyumas Periode 2026-2031.
Gelaran akbar yang sarat dengan nilai spiritual ini dijadwalkan akan menghentak bumi Banyumas pada hari Ahad Kliwon, 7 Juni 2026, bertempat di Gedung Muslimat NU Kauman Lama, Purwokerto, Banyumas. Peristiwa ini diprediksi bukan sekadar suksesi kepemimpinan biasa, melainkan momentum kebangkitan bagi ribuan jamaah Muslimat di seluruh penjuru daerah.
Dengan kerendahan hati yang mendalam namun memancarkan ketegasan jiwa, Hj. Khasanatul Mufidah membuka suaranya secara resmi kepada seluruh masyarakat Banyumas dengan untaian doa dan permohonan restu yang menyentuh kalbu:
“Dengan kerendahan hati, kami berikhtiar untuk berkhidmat di Muslimat NU Kabupaten Banyumas periode 2026-2031. Dengan sepenuh hati dan potensi yang kami miliki dengan harapan Muslimat kedepan lebih modern, professional, transparan, dan berdampak di tengah masyarakat,” tutur Khasanatul dengan nada suara yang bergetar penuh takzim.
Rekam Jejak Emas: Akar Kuat, Cabang Menjulang Langit
Bukanlah pohon yang kokoh jika tidak ditopang oleh akar yang mendalam. Profil Hj. Khasanatul Mufidah adalah perpaduan harmonis antara intelektual hukum formal dan keteduhan pesantren. Lulusan S1 Ilmu Hukum Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) ini didampingi oleh suami tercinta, KH Adam Holik Sadin Said—seorang ulama kharismatik yang aktif di LBM NU Kabupaten Banyumas dan Pengasuh Majlis Kajian Tafsir Al Barokah dan Darul Iman Karangrau Sokaraja. Dari rumah tangga yang berkah di Hunian Taman Hijau Jl. Seloarum, Karangrau, Kec. Sokaraja, Banyumas, lahirlah tiga buah hati yang dididik dalam nafas religius.
Secara organisatoris, Khasanatul adalah “darah biru” kaderisasi NU. Sejak muda, ia telah mengasah taji di pucuk pimpinan tertinggi sebagai Pengurus Pimpinan Pusat IPPNU (1996-2001), berlanjut menjadi Ketua II Fatayat NU Kabupaten Banyumas (2005-2008), hingga dipercaya menjabat posisi strategis di PC Muslimat NU Kabupaten Banyumas sebagai Ketua Bidang Organisasi (2015-2020) dan Ketua Bidang Sosial Budaya & Lingkungan Hidup (2020-2025).
Jaringannya yang menggurita di Banyumas terbukti dari posisinya sebagai Wakil Bendahara PCNU Kabupaten Banyumas dan Ketua Forum Pimpinan BAZNAS Bralingmascakeb.
BOMBASTIS! Di tangan dinginnya saat memimpin BAZNAS Kabupaten Banyumas, lembaga zakat tersebut menjelma menjadi mesin kemanusiaan yang luar biasa. Berbagai torehan prestasi gemilang tingkat provinsi dan nasional berhasil diraih, termasuk dinobatkan sebagai Best Leader Ketua BAZNAS Perempuan Satu-satunya di Jawa Tengah. Langkah humanisnya meluap hingga ranah sosial: ia adalah pendiri KB Al Majida Wlahar, PAUD Jambu Wangon, serta Agen Penggerak Gerakan Nasional Anti Korupsi KPK.
Gebrakan Manifesto: Perempuan “MILITAN” yang Menyejukkan
Menghadapi Konfercab 2026, Khasanatul Mufidah membawa sebuah konsep segar yang membakar semangat namun tetap meneduhkan hati. Sebuah akronim perjuangan yang ia sebut sebagai Perempuan MILITAN.
“Muslimat masa depan harus menjadi perempuan MILITAN! Namun, militansi kami bukanlah radikalisme yang merusak, melainkan sebuah nilai nyata: Muda dalam semangat, Inovatif dalam gerakan, Luwes dalam bersinergi, Inspiratif bagi lingkungan sekitar, Teruji dalam badai ujian organisasi, Amanah memegang mandat umat, dan Nyata dalam memberikan kontribusi bagi masyarakat Banyumas,” tegasnya berapi-api, memantik optimisme baru.
Dalam konstelasi pemilihan nanti, ia menegaskan pentingnya penguatan kualitas kader dari tingkat ranting hingga cabang di seluruh wilayah Banyumas. Baginya, Muslimat NU wajib bergerak responsif dan adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan akar akhlakul karimah.
Saat ditanya mengenai kesiapannya menghadapi dinamika pemilihan dan kandidat-kandidat hebat lainnya, jawaban Khasanatul justru menjadi oase yang menyejukkan di tengah hangatnya suhu politik organisasi.
“Konfercab ini adalah pasar gagasan mulia, bukan medan perang yang saling menjatuhkan. Saya sangat siap dan berani untuk adu gagasan, adu program kerja, dan adu visi-misi demi kemajuan Muslimat! Namun ingat, semua itu wajib kita lakukan dengan cara yang santun, bermartabat, dan menyejukkan. Siapa pun yang terpilih nanti, kemenangan sejati adalah milik Jam’iyah Muslimat NU. Kita berkompetisi untuk saling memuliakan, bukan saling meruntuhkan,” pungkasnya tersenyum teduh.
Kini, tinggal menghitung hari menuju Ahad Kliwon, 7 Juni 2026, dinanti sebagai saksi sejarah. Apakah lentera perubahan yang dibawa oleh sang Perempuan MILITAN ini akan menyinari dan memimpin PC Muslimat NU Kabupaten Banyumas menuju masa keemasannya? Di bawah langit Kauman Lama Purwokerto, Banyumas, doa-doa mulai dilangitkan, dan sejarah baru siap dituliskan dengan tinta emas perjuangan para ibu.
(Warto //Red)


