Khatmil Qur’an 30 Juz, Doa dan Cinta Keluarga Mengantar R. Ngt. Umy Teresia ke Keabadian Rahmat Ilahi
RTNews. Banyumas – Keluarga besar Kiai Abdul Kholiq menggelar Sema’an Al-Qur’an bil Ghoib 30 Juz dan Tahlil 100 hari wafatnya almarhumah R. Ngt. Umy Teresia Ani Widiastuti binti Aman Suwasono Wijaya, Sabtu (10/1/2026), di kediaman Jl. Ampel RT 001 RW 005, Pengasinan, Kedungwringin, Patikraja, Banyumas. Kegiatan ini menjadi ikhtiar ruhani keluarga dan masyarakat untuk menghadiahkan doa terbaik. “Kegiatan ini kami laksanakan sebagai doa bersama mengenang 100 hari wafatnya istri tercinta saya, agar Allah SWT melimpahkan kasih sayang, kemuliaan, dan menempatkannya sebagai ahli jannah,” tutur Kiai Abdul Kholiq.
Rangkaian acara dimulai dengan Sema’an Al-Qur’an 30 juz sejak pukul 05.30 hingga 15.30 WIB, dilanjutkan Tahlil Bersama mulai pukul 15.30 WIB sampai selesai. “Setiap ayat yang dilantunkan kami niatkan sebagai cahaya penerang bagi almarhumah di alam kuburnya. Ini adalah ikhtiar cinta dan bakti kami sekeluarga,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa Sema’an Al-Qur’an 30 juz dan doa serupa juga telah dilaksanakan pada peringatan 7 hari dan 40 hari wafat.
Majelis tersebut dihadiri keluarga besar, kerabat, tetangga, tokoh masyarakat, Ketua PAC Muslimat NU Patikraja beserta jajaran, Ketua PR Muslimat NU Kedungwringin, anggota Muslimat NU, serta jamaah sekitar. “Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa almarhumah memiliki ikatan silaturahmi yang kuat dan meninggalkan jejak kebaikan di hati banyak orang,” lanjut Kiai Abdul Kholiq.
Ia juga menuturkan keteladanan almarhumah semasa hidup. “Almarhumah adalah sosok perempuan yang istiqamah dalam pengabdian umat dan sosial keagamaan. Ia aktif sebagai guru MI, pengurus Muslimat NU di tingkat ranting dan PAC, relawan Perisai, Ketua PGSI Banyumas, serta anggota Khidmat. Semua amanah itu dijalani dengan penuh keikhlasan,” ungkapnya, berharap seluruh pengabdian tersebut menjadi bekal kemuliaan di sisi Allah SWT.
Kiai Abdul Kholiq menambahkan bahwa almarhumah juga dikenal sebagai Relawan Perisai BPJS Ketenagakerjaan, yang aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perlindungan jaminan sosial. “Beliau sangat peduli terhadap keselamatan dan masa depan keluarga-keluarga pekerja. Bagi kami, ikhtiar lahir melalui jaminan sosial adalah bagian dari tanggung jawab, sebagaimana ikhtiar batin melalui doa,” ujarnya.
Ia kemudian menegaskan manfaat nyata BPJS Ketenagakerjaan yang dirasakan langsung oleh keluarganya. “Saya merasakan langsung besarnya manfaat BPJS Ketenagakerjaan. Proses pengurusannya mudah, tidak berbelit, dan dalam waktu kurang dari satu bulan manfaat sudah kami terima, berupa santunan bulanan bagi saya sebagai suami serta beasiswa pendidikan untuk dua anak. Karena itu, saya mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya keluarga besar Nahdlatul Ulama, agar tidak ragu mengikuti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Ini adalah ikhtiar perlindungan dan bentuk kasih sayang kepada keluarga, karena manfaatnya nyata, menenangkan, dan sangat membantu keberlangsungan hidup,” tegas Kiai Abdul Kholiq Kedungwringin, Patikraja.
Sahabat almarhumah, Vaufi, mengenang pribadi almarhumah sebagai sosok yang hangat dan penuh perhatian. “Almarhumah itu ceria, ramah, baik, dan sangat perhatian. Senda gurau kami adalah ungkapan kasih sayang agar saling menjaga kebaikan,” tuturnya, menggambarkan almarhumah sebagai pribadi yang menebarkan ketulusan dalam setiap perjumpaan.
Kesaksian serupa disampaikan Ustaz Muayad Al-Hafidz Patikraja. “Beliau sosok yang supel, ramah, membaur dengan masyarakat, menebarkan kehangatan dan kebaikan di mana pun berada. Semoga seluruh doa dikabulkan, khilafnya diampuni, dan amal baktinya diterima Allah SWT,” ujarnya, sembari berpesan agar setiap insan terus menebar kebaikan sebagai amal jariyah.
Ketua PAC Fatayat NU Patikraja, Ibunda Eko Listiyaningsih, menegaskan nilai spiritual majelis tersebut. “Almarhumah hari ini dihadiahi khatmil Al-Qur’an 30 juz, sebuah kiriman langit yang nilainya jauh lebih mulia daripada harta dunia mana pun. Kami yakin di alam barzakh beliau tersenyum menyaksikan lantunan ayat-ayat suci ini,” katanya. Ia menutup dengan pesan, “Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa hidup hanya sementara. Mari meneladani pengabdian almarhumah, memperbanyak pelayanan kepada sesama, hingga kelak wafat dalam keadaan husnul khatimah.” Tegas tuturnya.
Melalui majelis 100 hari ini, keluarga dan masyarakat berharap doa-doa yang terpanjat menjadi wasilah turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT bagi almarhumah, sekaligus menguatkan keteguhan hati keluarga yang ditinggalkan. Semoga cahaya Al-Qur’an yang dilantunkan, tahlil yang dipanjatkan, serta kebersamaan dalam doa ini menjadi sumber keberkahan, menumbuhkan semangat saling menguatkan, dan menghidupkan tradisi kebaikan yang terus mengalir sebagai amal jariyah bagi semua yang terlibat.
(Kontributor : Djarmanto-YF2DOI//Red)


