Konfercab Muslimat NU Ditegaskan, Jaga Khittah, Rawat Amanah, Hindari Polarisasi
RTNews. Banyumas – Dari hasil wawancara eksklusif awak media pada Sabtu malam (25/04/2026), Dra. Hj. Suhartiningsih, tokoh Muslimat NU sekaligus kader senior organisasi, menegaskan bahwa Konferensi Cabang (Konfercab) bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum sakral untuk menjaga arah perjuangan organisasi.
“Konfercab adalah ruang meneguhkan komitmen, bukan sekadar memilih pemimpin, tetapi memastikan keberkahan tetap menyertai langkah organisasi,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Muslimat NU sebagai organisasi perempuan Islam terbesar memiliki fondasi kuat melalui PD & PRT serta POAM sebagai panduan teknis. Namun menurutnya, tantangan utama bukan pada aturan, melainkan pada konsistensi pelaksanaannya.
“Aturan sudah jelas, yang diuji adalah kejujuran kita dalam menjalankan. Jangan sampai tafsir liar menggeser substansi yang telah digariskan,” ujarnya lugas.
Dalam konteks harmonisasi aturan, Suhartiningsih mengingatkan agar POAM tidak melampaui kedudukan PD & PRT.
“POAM itu penjelas, bukan pengganti. Jika terjadi perbedaan tafsir, maka kembalilah pada PD & PRT sebagai rujukan tertinggi,” tegasnya, seraya menekankan pentingnya disiplin organisasi sebagai fondasi kepercayaan.
Terkait kepemimpinan, ia menyoroti pentingnya proses kaderisasi yang matang.
“Menjadi pemimpin bukan hanya soal kemampuan, tetapi juga pengalaman struktural dan pemahaman mendalam terhadap dinamika organisasi. Ketua harus lahir dari jenjangnya, ini soal menjaga kualitas, bukan membatasi,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa Muslimat NU adalah gerakan dakwah, bukan sekadar organisasi administratif.
“Pemimpin harus menjadi teladan, bukan hanya cakap mengelola, tetapi juga menghadirkan nilai Islam dalam kehidupan nyata. Keteladanan adalah kunci kepercayaan umat,” tegasnya dengan nada penuh makna.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga persatuan dalam dinamika Konfercab.
“Perbedaan pilihan itu wajar, tetapi jangan sampai menjadi perpecahan. Konfercab harus menjadi ruang merangkul, bukan memisahkan. Semua kader adalah aset berharga,” pesannya.
Dalam tradisi NU, nilai satrul aurat atau menjaga kehormatan sesama juga harus dijunjung tinggi.
“Kritik boleh, evaluasi perlu, tetapi harus bermartabat. Jangan menjatuhkan, tetap jaga ukhuwah. Itulah akhlak organisasi yang harus kita rawat bersama,” ujarnya penuh penekanan.
Mengakhiri pernyataannya, Suhartiningsih mengajak seluruh elemen Muslimat NU kembali pada niat awal berkhidmah.
“Jangan kejar jabatan, tapi kejarlah keberkahan. Pegang teguh aturan, jaga etika, dan luruskan niat. InsyaAllah, Muslimat NU akan tetap kokoh, bermartabat, dan diberkahi dalam setiap langkah perjuangannya,” pungkasnya tegas.
(Kontributor // Djarmanto-YF2DOI//Redaksi)

