MUI Purbalingga Rajut Silaturahmi Bersama Bupati dan Ormas Islam

0

RTNews. Purbalingga — Suasana hangat penuh ukhuwah menyelimuti Pondok Pesantren Daarul Ishlah Sokawera, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga, Minggu (10/5), saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Purbalingga menggelar silaturahmi dan halal bihalal bersama Bupati serta lintas organisasi Islam.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum MUI Kabupaten Purbalingga KH Roghib Abdurrahman, perwakilan Bupati Purbalingga Asisten I Setda Drs Suroto MSi, Kasat Binmas Polres Purbalingga AKP Teddy Subiyarsono SH MH, Ketua Baznas, Ketua PCNU, Ketua PDM, Kepala Kantor Kemenag, Kepala Kemenhaj, Ketua FKUB, tokoh agama, serta ratusan peserta halal bihalal.

Dalam sambutan Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif yang dibacakan Asisten I Drs Suroto MSi, para ulama dan kiai MUI diminta menjadi “Tukang Ngarit”, “Tukang Angon”, dan “Tukang Mancing” sebagai filosofi pengabdian kepada umat dan bangsa.

“‘Tukang ngarit’ adalah filosofi ulama yang mencari rumput kearifan lokal Jawa yang mengajarkan ketekunan, kerendahan hati, dan keseimbangan hidup. Aktivitas sederhana itu menempa karakter ulet, jujur, disiplin, berani, dan pantang menyerah. Ngarit mengajarkan hidup selaras dengan alam,” tegas Bupati dalam sambutannya.

Ia menambahkan, filosofi “Tukang Angon” mengandung makna penggembala umat yang mampu menjaga, merawat, serta mengendalikan diri sebelum memimpin masyarakat.

“Filosofi angon mencerminkan kesederhanaan, keuletan, dan kepemimpinan yang mengayomi. Seseorang harus mampu mengendalikan hawa nafsu sebelum memimpin orang lain,” ujarnya.

Sementara filosofi “Tukang Mancing”, lanjutnya, merupakan simbol kesabaran dan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan.

“Mancing bukan sekadar menangkap ikan, tetapi seni kesabaran, ketekunan, dan refleksi diri. Hasil tidak pernah mengkhianati proses. Senar putus pun menjadi bagian dari pelajaran hidup,” tuturnya penuh makna.

Ketua Umum MUI Kabupaten Purbalingga KH Roghib Abdurrahman dalam tausiyahnya menegaskan bahwa tradisi halal bihalal merupakan warisan luhur bangsa Indonesia yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

“Profesor Ahmad Salabi dari Universitas Al-Azhar Kairo dalam tulisannya menyebutkan bahwa tradisi silaturahmi halal bihalal seperti di Indonesia tidak ditemukan di negara lain. Ini budaya yang sangat mulia karena di dalamnya ada saling meminta maaf dan memberi maaf,” kata KH Roghib Abdurrahman.

Menurutnya, halal bihalal bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan jembatan hati untuk memperkuat persaudaraan, merawat kerukunan, dan menautkan kasih sayang antarsesama.

Sementara itu, Kapolres Purbalingga melalui Kasat Binmas AKP Teddy Subiyarsono SH MH menyampaikan apresiasi kepada MUI yang selama ini aktif menjaga kondusivitas daerah bersama aparat keamanan dan seluruh elemen masyarakat.

“Kami memberikan penghargaan kepada MUI yang telah berperan menjaga kondusivitas wilayah. Ke depan, kami akan terus menggandeng MUI untuk meminimalisasi potensi gangguan keamanan melalui program ‘Sabuk Kamtibmas’ bersama seluruh elemen masyarakat,” tegas AKP Teddy.

Halal bihalal tersebut berlangsung penuh khidmat, hangat, dan sarat nilai persatuan. Di tengah lantunan doa serta jabat tangan penuh keikhlasan, para ulama, umara, dan tokoh masyarakat menyatukan hati demi menjaga harmoni Purbalingga yang damai, religius, dan penuh keberkahan.

(Warto)

Tinggalkan Balasan