Ziarah Tebuireng 17, Menyalakan Spirit Keikhlasan Jelang Ramadan
RTNews. Jombang – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Pondok Pesantren PP Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja Banyumas Jawa Tengah, rutin merawat tradisi nyekar sebagai napas spiritual perjuangan.
Pada Ahad (8/2/2026), rombongan santri dan pengurus melakukan ziarah ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Agenda ini ditegaskan kembali kepada awak media pada Rabu pagi (18/02/2026) oleh jajaran Humas, Pengasuh, dan Ketua Yayasan sebagai bagian dari ikhtiar menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan niat yang tulus.
Ketua Yayasan, H. Imam Purwanto ( Ayahe / Anto Djamil ), menegaskan bahwa ziarah itu bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan penguatan sanad ruhani dan komitmen keilmuan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap langkah santri dilandasi keikhlasan. Sebagaimana dawuh Hadratussyaikh, jika amal tanpa ikhlas, ia hanya menambah kegelapan hati. Ziarah ini adalah cara kami merawat cahaya itu,” tegasnya.
Pernyataan tersebut merujuk pada pesan bijak KH. M. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan Tebuireng, yang makamnya menjadi titik utama doa dan munajat rombongan.
Pengasuh bidang pesantren, Kh. Irchamni Masdari, menjelaskan bahwa ziarah juga dilakukan ke maqbarah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
“Kami ingin para santri belajar langsung dari jejak sejarah. Gus Dur mengajarkan toleransi, keadilan sosial, dan kemanusiaan tanpa sekat. Nilai itu harus hidup di dada generasi muda,” ujarnya.
Menurutnya, ziarah adalah perjalanan batin yang meneguhkan kembali misi pesantren dalam membentuk generasi beriman, berilmu, dan berakhlakul karimah.
Humas Choi pesantren Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja, menambahkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh unsur yayasan, pengasuh, kepala sekolah, serta para santri sebagai bagian dari pendidikan karakter berbasis keteladanan ulama.
“Kami ingin publik memahami bahwa tradisi ini adalah jembatan spiritual antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ada doa, ada harapan, dan ada penegasan arah perjuangan,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut dikemas sebagai refleksi kolektif sebelum memasuki Ramadan, agar seluruh civitas pesantren menyongsong bulan suci dengan kesiapan lahir dan batin.
Ziarah yang berlangsung khidmat itu meninggalkan kesan mendalam bagi para santri. Salah satu santri, Naufal, menyampaikan,
“Kami merasa lebih dekat dengan sejarah perjuangan para ulama. Ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati yang menguatkan tekad kami untuk melanjutkan nilai-nilai mereka.” Melalui tradisi ini, Pesantren Tebuireng 17 menegaskan komitmen merawat warisan ulama, mempererat hubungan antarpesantren, serta menyalakan kembali semangat keikhlasan sebagai bekal memasuki Ramadan yang penuh berkah.
(Kontributor : Choi/Djarmanto-YF2DOI//Redaksi)


