Aktivis di Tengah Banjir Isu Politik* Oleh : Hikmat Subiadinata 160826
RTNews. – Di era politik digital, aktivis menghadapi persoalan baru: bukan kekurangan informasi, tetapi kelebihan informasi. Setiap hari muncul isu baru—korupsi, kebijakan kontroversial, konflik elite, hingga persoalan pribadi pejabat. Perhatian publik bergerak cepat dari satu isu ke isu lain. Dalam situasi seperti ini, aktivis jangan sampai hanya menjadi pengikut arus isu, tetapi harus mampu membaca struktur dan kepentingan di baliknya.
Isu yang viral belum tentu merupakan persoalan yang paling penting. Karena itu, pertanyaan aktivis tidak boleh berhenti pada “apa yang terjadi?”, tetapi harus dilanjutkan dengan: siapa yang berkepentingan, siapa yang memiliki kewenangan, siapa yang dirugikan, dan bagaimana perubahan dapat dilakukan?
Pelajaran penting lainnya adalah bahwa massa besar tidak otomatis menjadi kekuatan politik. Demonstrasi dapat memenuhi jalan, media sosial dapat bergemuruh, tetapi tanpa organisasi, kaderisasi, data, strategi, dan konsistensi, energi tersebut mudah menghilang. Karena itu, aktivisme harus bergerak dari mobilisasi massa menuju organisasi massa; dari kemarahan menuju kesadaran; dari viralitas menuju perubahan nyata.
Aktivis juga tidak boleh menjadi korban algoritma. Like, share, dan komentar hanyalah alat. Ukuran keberhasilan bukan seberapa ramai sebuah isu, melainkan apa yang berubah setelah masyarakat bergerak: apakah kebijakan dikoreksi, hak rakyat dipulihkan, institusi diperbaiki, atau kekuasaan menjadi lebih akuntabel.
Dalam konteks pemerintahan Prabowo–Gibran, aktivis juga perlu realistis. Demokrasi tidak hanya berbicara tentang bagaimana menjatuhkan pemerintahan, tetapi bagaimana mengontrol kekuasaan melalui konstitusi, hukum, parlemen, masyarakat sipil, media, dan kekuatan rakyat yang terorganisasi. Pergantian orang tidak selalu berarti perubahan sistem; sebaliknya, perubahan sistem dapat diperjuangkan tanpa harus menjatuhkan pemerintahan.
Karena itu, aktivis masa kini harus naik kelas: jangan hanya menjadi komentator, tetapi pembaca struktur; jangan hanya menjadi pengikut isu, tetapi pembentuk agenda; jangan hanya mengkritik, tetapi menawarkan solusi; jangan hanya mengumpulkan massa, tetapi membangun organisasi.
Pada akhirnya, tugas aktivis bukan sekadar merobohkan kekuasaan. Tugas yang lebih luhur adalah memastikan setiap kekuasaan tetap tunduk kepada konstitusi, hukum, dan kepentingan rakyat.
Kekuasaan boleh kuat, tetapi tidak boleh tanpa kontrol. Rakyat boleh kritis, tetapi harus terorganisasi. Dan demokrasi hanya akan kuat apabila rakyat tidak sekadar bersuara, melainkan mampu mengubah suara menjadi kekuatan perubahan.
(Magda)
