SD Negeri 2 Krui Kekurangan Murid, Sekolah Harapkan Perhatian Pemerintah
RTNews. Krui , Pesisir Barat – SD Negeri 2 Krui yang beralamat di Gang Meses, Kelurahan Pasar Kota Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, berharap adanya perhatian dan pengayoman dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat untuk meningkatkan kembali jumlah peserta didik di sekolah tersebut.
Kepala SD Negeri 2 Krui, Herlina, saat ditemui di sekolah, Rabu (19/8/2026), mengatakan saat ini jumlah peserta didik hanya 38 orang. Mereka terdiri atas enam siswa kelas I, dua siswa kelas II, tujuh siswa kelas III, sembilan siswa kelas IV, enam siswa kelas V, dan 10 siswa kelas VI.
Sementara itu, sekolah tersebut memiliki 10 tenaga pendidik. Dua orang berstatus PNS dan delapan lainnya merupakan PPPK.
Herlina mengatakan, penurunan jumlah siswa terjadi secara bertahap dari tahun ke tahun. Bahkan, ketika dirinya mulai mengajar di sekolah tersebut sekitar 2021, jumlah siswa masih mencapai 60 orang.
“Saat saya masuk mengajar di sekolah ini sekitar tahun 2021, jumlah muridnya 60 orang. Hingga saat ini totalnya tinggal 38 orang,” ujar Herlina.
Kondisi tersebut cukup jauh dibandingkan tahun 2005. Saat itu, SD Negeri 2 Krui tercatat memiliki sekitar 200 siswa.
Menurut Herlina, pihak sekolah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat masyarakat agar menyekolahkan anaknya di SD Negeri 2 Krui, terutama setiap memasuki tahun ajaran baru.
“Sekolah kami ini berada di pusat kota. Kami sudah proaktif, bahkan lurah juga sudah menyampaikan kepada warga dan orang tua agar mendaftarkan anaknya di sekolah kami,” katanya.
Selain melakukan sosialisasi, pihak sekolah juga berupaya membangun kedekatan dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan, termasuk gotong royong.
“Kami ikut kegiatan sosial, seperti gotong royong. Kami juga terus menyosialisasikan kepada orang tua agar anak mereka bisa bersekolah di sini. Namun, kondisinya tetap seperti ini. Kemungkinan anak-anak lebih memilih bersekolah di tempat lain,” ujarnya.
Di tengah minimnya jumlah siswa, pihak sekolah berharap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesisir Barat dapat sering turun langsung melihat kondisi sekolah sekaligus memberikan solusi.
Herlina mengatakan, pihaknya membutuhkan arahan mengenai langkah yang harus dilakukan agar jumlah peserta didik dapat kembali meningkat.
“Bagaimana solusi dari dinas,Apakah ada program yang bisa dibangun atau bagaimana cara menarik kembali minat murid untuk bersekolah di sini,” katanya.
Ia menjelaskan, jumlah siswa yang ideal dalam satu rombongan belajar juga menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah.
“Kalau idealnya, satu kelas minimal 20 orang dan maksimal 28 orang. Kalau kami tidak mendapatkan jumlah seperti itu, ya kondisinya seperti sekarang, apa adanya,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara langsung dalam rapat-rapat sekolah, meninjau kondisi sekolah, serta melihat kebutuhan secara langsung diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas sekolah, baik dari sisi fisik maupun nonfisik.
“Kami berharap dinas bisa sering turun langsung, hadir dalam rapat-rapat yang dilaksanakan sekolah dan melihat kondisi kami. Dengan begitu, mungkin ada upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan sekolah ini,” katanya.
Di balik persoalan minimnya peserta didik, SD Negeri 2 Krui menyimpan sejarah panjang. Sekolah yang dikenal masyarakat dengan sebutan SD Meses, sesuai dengan lokasinya di Gang Meses, disebut telah berdiri sejak zaman Belanda.
Seorang guru di sekolah tersebut yang juga merupakan alumni mengaku memiliki kenangan tersendiri terhadap sekolah itu.
“Saya juga lulusan dari sekolah ini, tahun 1982. Waktu itu kami masih sekolah dan sering menemukan jenis buku yang di gunakan menulis pada zaman belanda, setelah ditulis bisa di hapus, tidak seperti Buku yang ada seperti sekarang,” kata dia.
Kata dia, keberadaan SD Negeri 2 Krui bukan hanya bagian dari dunia pendidikan, tetapi juga memiliki sejarah panjang bagi masyarakat Krui.
Karena itu, pihak sekolah berharap perhatian pemerintah tidak hanya diarahkan pada peningkatan jumlah siswa, tetapi juga pada upaya menjaga keberadaan sekolah yang memiliki nilai sejarah tersebut agar tetap menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan di Krui.
(Yf/HT)
