12 Malam Bershalawat, Tlogosari Bergetar: Cinta Nabi Tak Pernah

0
IMG-20260825-WA0016

RTNews. SEMARANG || Lantunan “Ya Nabi Salam Alaika, Ya Rasul Salam Alaika, Ya Habib Salam Alaika, Shalawatullah Alaika” menggema syahdu di Tlogosari, Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Senin malam (24/08/2026).

Sekitar 70 jamaah Majelis Taklim An-Nisa mengikuti khataman Diba Al-Barzanji sebagai penutup rangkaian pembacaan selama 12 malam berturut-turut, sejak malam 1 hingga 12 Rabiulawal.

“Alhamdulillah, selama 12 malam nonstop, sejak malam 1 Rabiulawal sampai malam 12, jamaah istikamah membaca Diba Al-Barzanji. Kegiatannya dimulai bakda Isya dan berakhir sekitar pukul 21.00,” kata Pimpinan Majelis Taklim An-Nisa, Hj. Imaroh Achmad Mansyur.

Khataman ditutup doa dan tahlil yang dipimpin Pembina Majelis Taklim An-Nisa, Dr. H. Agus Fathuddin Yusuf, M.A. Momentum tersebut menjadi ikhtiar jamaah merawat kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus mempererat persaudaraan dan kepedulian sosial.

Agus menjelaskan, Diba Al-Barzanji atau Maulid Al-Barzanji merupakan karya sastra keagamaan yang memuat pujian, kisah kelahiran, perjalanan hidup, akhlak, serta keutamaan Nabi Muhammad SAW dalam susunan prosa dan syair yang indah.

“Isinya berupa pujian, kisah kelahiran, perjalanan hidup, akhlak, serta keutamaan Nabi Muhammad SAW yang disusun dalam bentuk prosa dan syair yang indah,” ujar Agus, dosen FISIP Universitas Wahid Hasyim Semarang sekaligus wartawan Senior.

Menurut Agus, nama Al-Barzanji dinisbatkan kepada Syekh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji dari keluarga Barzanji di Kurdistan. Karyanya, ‘Iqd al-Jawahir atau “Kalung Permata”, kemudian dikenal luas sebagai Maulid Al-Barzanji.

“Karya tersebut lahir dari tradisi penulisan sirah dan madah nabawiyah, yaitu tradisi menceritakan kehidupan Rasulullah SAW sekaligus mengekspresikan kecintaan dan penghormatan kepada beliau,” jelasnya.

Tradisi Barzanji berkembang luas di dunia Islam, termasuk Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura. Di Indonesia, pembacaannya hidup di lingkungan pesantren, Nahdlatul Ulama, majelis taklim, serta berbagai komunitas keagamaan dan sosial masyarakat.

“Yang terpenting bukan hanya membaca teksnya, tetapi bagaimana kecintaan kepada Rasulullah SAW kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui akhlak, keteladanan, persaudaraan, dan kepedulian kepada sesama,” tegas Agus.

Ia juga mengingatkan agar semangat bershalawat tidak berhenti ketika bulan Maulid berakhir.

“Di luar bulan Maulid, mari kita tetap memperbanyak bacaan shalawat. Kesulitan hidup dalam bentuk apa pun, selesaikanlah dengan memperbanyak bacaan shalawat,” pesannya.

Bagi jamaah Majelis Taklim An-Nisa, 12 malam bershalawat bukan sekadar rangkaian ritual yang selesai pada malam khataman. Ia menjadi jejak cinta, doa, dan ikhtiar menjaga warisan keagamaan agar tetap hidup di tengah zaman.

Dari Tlogosari, gema Ya Nabi Salam Alaika seakan mengingatkan: mencintai Rasulullah bukan hanya dengan lantunan di lisan, tetapi dengan akhlak, persaudaraan, kepedulian, dan kebaikan nyata dalam kehidupan.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *