Jalan Sumur Jaya–Hanura hingga Tulung Penyangu Di Pesisir Barat Bertahun-tahun Memprihatinkan, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan
RTNews. KRUI, PESISIR BARAT — Warga yang bermukim dan beraktivitas di kawasan perkebunan pada jalur Sumur Jaya–Hanura menuju objek wisata Air Terjun Tulung Penyangu, serta jalur dari Siring Tuba menuju objek wisata tersebut, yang masuk dalam wilayah Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, berharap pemerintah segera membangun akses jalan yang layak.
Harapan itu disampaikan warga karena kondisi jalan di wilayah tersebut hingga kini masih memprihatinkan. Sejumlah titik memang pernah dilakukan pengerasan, tetapi kondisinya kembali rusak. Di bagian lain, jalan masih berupa tanah. Ada pula ruas yang telah dirabat beton, namun lebarnya hanya cukup dilalui satu kendaraan roda dua.

Kondisi tersebut membuat warga harus ekstra hati-hati saat melintas. Bahkan, sejumlah warga mengaku pernah terjatuh dari kendaraan akibat medan jalan yang cukup ekstrem hingga mengalami luka-luka.
Kesulitan semakin terasa ketika musim penghujan tiba. Jalan yang masih berupa tanah menjadi licin dan sulit dilalui, sementara ruas yang rusak membuat perjalanan warga menjadi lebih berisiko.
Padahal, menurut warga, pembangunan akses jalan di kawasan tersebut berpotensi besar membuka pergerakan ekonomi masyarakat. Selain menjadi akses menuju Air Terjun Tulung Penyangu, wilayah itu merupakan kawasan perkebunan yang dihuni dan dimanfaatkan warga dari sejumlah Desa (pekon), antara lain Pekon Tanjung Setia, Sumur Jaya, Pagar Dalam, Pelita Jaya, Ulokmanik, dan Biha.
Harapan pembangunan sebenarnya telah muncul sejak belasan tahun lalu, akses jalan di aspal dan fasilitas umum lain segera terwujud di wilayah itu. Saat Pj. Bupati Pesisir Barat Kherlani memimpin dan ia pernah datang meninjau kawasan tersebut sekaligus melihat objek wisata Air Terjun Tulung Penyangu.
Kedatangan tersebut sempat membangkitkan optimisme masyarakat. Terlebih, saat itu badan jalan menuju kawasan tersebut telah dibuka dengan lebar lebih dari 10 meter. Namun, seiring berjalannya waktu, harapan warga terhadap pembangunan jalan yang representatif perlahan meredup.
Badan jalan yang sebelumnya terlihat lebar kini mulai menyempit. Semak belukar tumbuh di kedua sisi jalan karena akses tersebut terbengkalai dan tidak mendapat penanganan secara berkelanjutan.
Aspansyah, Makmur, Supriyadi, Senin 24 Agustus 2026, dan sejumlah warga lainnya berharap pemerintah menjadikan pembangunan akses jalan di kawasan tersebut sebagai salah satu prioritas. Mereka mengaku telah bertahun-tahun merasakan sulitnya medan jalan sekaligus minimnya fasilitas umum.
“Warga hanya meminta pemerintah membangun jalan dan memasukkan penerangan listrik PLN di seluruh wilayah ini, karena ada yang belum mendapat. Setelah itu, biarkan ekonomi menggeliat melalui berbagai aktivitas yang kami lakukan di sini. Kami yakin kehidupan warga di wilayah ini akan menjadi lebih mudah dan lebih baik kalau jalan dan listrik dibangun,” kata Supriyadi.
Kata dia, kawasan perkebunan tersebut bukanlah lahan kosong. Namun telah lama merupakan lokasi perkebunan yang warga lokal menyebutnya “repong” berbagai tanaman bernilai ekonomis tumbuh didalamnya, seperti damar, durian, duku, manggis, petai, serta pohon jenis lainnya. Bahkan, sebagian warga telah mengembangkan perkebunan sawit.
Potensi tersebut dinilai akan jauh lebih berkembang apabila didukung akses transportasi yang memadai. Jalan yang baik diyakini dapat mempermudah warga mengangkut hasil perkebunan, membuka akses menuju objek wisata, sekaligus mendorong tumbuhnya berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, warga meminta pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Lampung, maupun Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat tidak sekadar melakukan pembangunan yang bersifat seremonial, tetapi benar-benar mengutamakan kebutuhan masyarakat.
Warga berharap anggaran pembangunan yang bersumber dari uang negara dapat diarahkan pada infrastruktur yang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat luas, terutama di wilayah yang selama bertahun-tahun masih menghadapi keterbatasan akses tersebut.
“Harapan kami, pemerintah pusat, provinsi, atau Pemkab Pesisir Barat dapat membangun wilayah ini karena dampaknya bukan hanya untuk beberapa orang, tetapi bisa dirasakan oleh masyarakat dalam jumlah besar,” ujar warga.
Pembangunan jalan tersebut, menurut warga, bukan hanya persoalan membuka akses menuju kawasan perkebunan dan objek wisata. Lebih dari itu, infrastruktur yang layak diharapkan menjadi pintu masuk bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut.
(Y/MI/Yan’s)
