MIRIS! Air PAM Bandarmasih Tak Layak Minum di 3 Kecamatan, Tetangganya di Banjarbaru Malah Mengalir Deras Tanpa Hambatan
BANJARMASIN — RADARTELUSURNEWS.COM. MUSIM kemarau panjang yang melanda Kalimantan Selatan tahun ini mulai menunjukkan dampak yang sangat serius. Ketika warga masih bertanya – tanya kapan hujan akan tiba, krisis air bersih justru sudah di depan mata.
Perusahaan Air Minum (PAM) Bandarmasih Kota Banjarmasin secara resmi telah mengeluarkan status keadaan darurat air minum di tiga kecamatan sekaligus. Tiga kecamatan yang terdampak adalah Banjarmasin Barat, Banjarmasin Tengah, dan Banjarmasin Utara.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejak tadi malam, Senin (21/9/2026) kualitas air yang mengalir ke rumah pelanggan di tiga kecamatan tersebut mengalami penurunan drastis dan tidak lagi layak untuk dikonsumsi. Warga diimbau untuk tidak menggunakan air tersebut untuk kebutuhan minum dan memasak.
Untuk saat ini airnya hanya bisa digunakan untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK) saja.
Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan dan memberatkan warga, terutama di tengah teriknya kemarau yang membuat kebutuhan air bersih justru meningkat.
Namun, pemandangan kontras justru terjadi di perusahaan air minum tetangganya.
Di saat (PAM) Bandarmasih berjibaku dengan krisis, Perusahaan Air Minum (PAM) Intan Banjar yang melayani dua wilayah sekaligus, yakni Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar, justru dilaporkan tidak mengalami hambatan sama sekali. Aliran air ke pelanggan disebut tetap mengalir normal seperti biasa, jernih dan lancar.
Direktur Utama (PAM) Intan Banjar, H. Syaiful Anwar, melalui Kepala Cabang Manarap (PAM) Intan Banjar, Alimudin, memberikan penjelasan.
Alhamdulillah, (PAM) Intan Banjar saat ini airnya tidak ada masalah mengalirnya kepada pelanggan,” kata Alimudin saat dikonfirmasi. Radartelusurnews.com. Selasa (22/9/2026)
Menurut Alimudin, kelancaran ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan dan antisipasi jangka panjang yang sudah dilakukan jauh – jauh hari.
Sebab, 6 bulan sebelum kemarau tiba, kami sudah mengantisipasi dengan pembangunan (SPAM) Intake Sungai Tabuk dan pertanggal 25 Agustus 2026 tadi sudah kita operasionalkan dengan minimal kebutuhan,” ujarnya.
Pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Intake Sungai Tabuk tersebut menjadi kunci penyelamat di musim kemarau kali ini.
Alimudin menjelaskan, kapasitas yang disiapkan dari Intake Sungai Tabuk tersebut mencapai 100 liter per detik (LPS) Dengan kebutuhan eksisting saat ini, pihaknya baru memanfaatkan sekitar 60 hingga 80 lps saja.
Jadi kita masih ada spare capacity sekitar 30 (LPS) mudah – mudahan ini bisa bertahan sampai 2-3 tahun akan datang. Artinya apa, kalau terjadi kemarau yang akan datang mudah – mudahan ini tidak menjadi masalah, jelasnya dengan nada optimis.
Keberadaan cadangan kapasitas ini membuat (PAM) Intan Banjar jauh lebih siap menghadapi ketidakpastian iklim.
Alimudin juga menyampaikan rasa empati kepada rekan – rekan di (PAM) lain yang saat ini tengah mengalami kesulitan.
Mudah – mudahan teman-teman (PAM) kita yang lain mendapatkan jalan keluarnya. Insya Allah kita untuk pelanggan Sungai Tabuk dan sekitarnya, termasuk Martapura, Sungai Batang, Sungai Lulut juga kondisi saat ini bisa kita amankan,” tambahnya.
Saat ini, kebutuhan pelanggan di wilayah tersebut yang mencapai sekitar 6 ribu hingga 8 ribu sambungan rumah, hingga 3 ribu masih terlayani, dipastikan masih aman dan tercukupi.
Kisah dua (PAM) ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya mitigasi bencana kekeringan. Di satu sisi ada yang terpaksa menetapkan status darurat, di sisi lain ada yang sudah menyiapkan payung sebelum hujan datang.
(Radartelusurnews.com) Herman Soetiady
