Air PAM Tak Layak Diminum! Sungai Lulut, Sungai Bakung dan Gudang Hirang Wajib Siapkan Tandon

0
IMG-20260923-WA0038

BANJARMASIN — RADARTELUSURNEWS.COM. Mulai Rabu, 23 September 2026 pukul 00.00 Wita, pelanggan PT Air Minum Bandarmasih di tiga wilayah Kabupaten Banjar menerima distribusi air bersih khusus kebutuhan (MCK) Untuk minum dan memasak, warga diminta menggunakan sumber air layak konsumsi dari tandon yang disiapkan di sejumlah titik.

Warga di tiga wilayah Kabupaten Banjar diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan pola layanan air bersih PT Air Minum Bandarmasih (Perseroda)

Mulai Rabu, 23 September 2026 pukul 00.00 Wita, distribusi air kepada pelanggan di Sungai Lulut, Sungai Bakung dan Gudang Hirang diberlakukan sebagai air bersih nonkonsumsi.

Artinya, air yang mengalir melalui jaringan perpipaan tersebut hanya diperuntukkan bagi kebutuhan Mandi, Cuci dan Kakus (MCK)

(PAM) Bandarmasih secara tegas mengingatkan pelanggan agar tidak menggunakan air tersebut untuk minum maupun memasak.

Informasi tersebut tercantum dalam pemberitahuan pelayanan PT Air Minum Bandarmasih yang secara khusus ditujukan kepada pelanggan di wilayah pelayanan (MTP) Sungai Lulut, Kabupaten Banjar.

Bukan Air Mentah, tetapi Belum Layak Dikonsumsi
Kebijakan distribusi air nonkonsumsi ini merupakan bagian dari langkah darurat (PAM) Bandarmasih menghadapi persoalan kualitas air baku.

Direktur Utama (PAM) Bandarmasih, Zulbadi, sebelumnya menjelaskan air yang didistribusikan dalam kondisi darurat tersebut tetap melewati tahapan pengolahan, mulai koagulasi, sedimentasi, filtrasi hingga disinfeksi.

Namun, perubahan kualitas air baku membuat hasil akhirnya belum memenuhi standar untuk dikonsumsi.

Prosesnya sama. Listriknya sama, bahan kimianya sama, tenaga kerjanya sama. Yang membedakan adalah output-nya karena input-nya juga berbeda, kata Zulbadi dalam penjelasan terkait kondisi darurat air bersih.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta tidak menyamakan air yang dialirkan melalui jaringan dengan air yang aman diminum.

Untuk (MCK) boleh digunakan. Untuk minum dan memasak, jangan.

Tandon Air Jadi Antisipasi Kebutuhan Minum
Untuk memenuhi kebutuhan air yang layak konsumsi, (PAM) Bandarmasih menyiapkan tandon air berkapasitas 3.000 liter di sejumlah lokasi yang dapat dijangkau masyarakat.

Perusahaan juga mengajak pengurus RT, RW, masjid dan musala yang memiliki tandon untuk dapat difungsikan sebagai titik keran umum bagi kebutuhan air minum dan memasak warga.

Langkah ini menjadi penting karena distribusi air nonkonsumsi tidak dapat digunakan untuk seluruh kebutuhan rumah tangga.

Masyarakat di wilayah terdampak pun diimbau menyiapkan wadah penampungan air serta memastikan kebutuhan air minum dan memasak dipenuhi dari sumber yang memang dinyatakan layak konsumsi.

Krisis Dipicu Kondisi Air Baku
Persoalan layanan air bersih Bandarmasih sebelumnya juga terjadi di sejumlah wilayah Kota Banjarmasin.

(PAM) Bandarmasih menyebut kondisi air baku dan masuknya air laut ke wilayah intake menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi layanan. Penurunan distribusi di sejumlah kawasan sebelumnya dilaporkan mencapai sekitar 40–60 persen.

Sebagai langkah penanganan, (PAM) Bandarmasih telah menggunakan armada tangki dan memasang 27 tandon berkapasitas 3.000 liter.

Untuk jangka panjang, Pemkot Banjarmasin dan (PAM) Bandarmasih juga membahas penguatan sumber air baku, termasuk usulan jaringan pipa berdiameter 1.200 milimeter sepanjang sekitar 9,3 kilometer dari kawasan Sungai Tabuk menuju sistem intake.

Warga Diminta Jangan Salah Gunakan Air
(PAM) Bandarmasih menegaskan status nonkonsumsi tersebut harus menjadi perhatian serius pelanggan.

Pasalnya, air tetap mengalir melalui jaringan perpipaan bukan berarti otomatis aman untuk diminum.

Pelanggan di Sungai Lulut, Sungai Bakung dan Gudang Hirang diminta mengikuti ketentuan penggunaan air selama masa layanan darurat berlangsung.

Distribusi air khusus (MCK) akan diberlakukan sampai kondisi air baku kembali memenuhi standar yang diperlukan untuk pengolahan air konsumsi. (PAM) Bandarmasih berharap kondisi tersebut dapat segera membaik seiring perubahan kondisi cuaca dan ketersediaan air baku.

Pesan utamanya jelas: air dari jaringan untuk (MCK) sedangkan air minum dan memasak harus berasal dari sumber yang dinyatakan layak konsumsi.

(Radartelusurnews.com) Herman Soetiady

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *