Setahun Berlalu, Doa dan Jejak Kebaikan Umy Teresia Ani Tetap Menyala

0
IMG-20261008-WA0253

RTNews. BANYUMAS || Setahun telah berlalu sejak R. Ngt. Umy Teresia Ani Widiastuti berpulang ke hadirat Allah SWT. Namun, waktu tidak menghapus jejak kebaikan, karya, dan pengabdian yang pernah ditanamkan almarhumah bagi keluarga, sahabat, komunitas literasi, maupun masyarakat.

Mengenang satu tahun kepergian almarhumah, keluarga menggelar tahlilan dan doa bersama di kediaman keluarga, Kedungwaringin, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Kamis malam (08/10/2026).

Tahlilan dan doa bersama dipimpin KH Achmad Cholidin, Rais MWC NU Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas. Kegiatan tersebut dihadiri keluarga, tetangga, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga NU setempat.

Kiai Abdul Kholik, suami almarhumah sekaligus sohibul hajat, turut menerima dan mendampingi para tamu yang hadir dalam suasana penuh khidmat dan kekeluargaan.

Almarhumah wafat pada Senin pagi, 6 Oktober 2025, di kediamannya di Desa Kedungwaringin, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas.

Semasa hidup, almarhumah dikenal sebagai sosok yang aktif berkarya dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Di bidang literasi, almarhumah merupakan penulis yang tergabung dalam komunitas Jendela Puspita serta meninggalkan warisan pemikiran melalui karya literasi, salah satunya dalam buku Kunci Sukses Pendidikan.

Selain aktif menulis, almarhumah juga mengabdikan diri sebagai Relawan Perisai BPJS Ketenagakerjaan, dengan kiprah kepedulian dan pengabdian kepada masyarakat di wilayah Purwokerto dan sekitarnya.

Tahlil Menjadi Pengingat Kehidupan

Dalam nasihatnya, KH Achmad Cholidin menegaskan bahwa tahlilan dan doa bersama bukan sekadar kegiatan mengenang orang yang telah meninggal. Momentum tersebut juga menjadi ikhtiar mendoakan almarhumah sekaligus pengingat bagi mereka yang masih hidup.

“Tahlil dan doa bersama ini bukan sekadar mengenang orang yang telah mendahului kita. Ini menjadi ikhtiar untuk mendoakan almarhumah, memohonkan ampunan kepada Allah SWT, sekaligus mengingatkan kita yang masih hidup agar senantiasa memperbanyak amal kebaikan dan mempersiapkan bekal untuk kembali kepada Allah SWT,” tegasnya.

Menurutnya, doa bagi orang yang telah wafat merupakan bentuk kepedulian dan penghormatan. Bacaan tahlil, dzikir, shalawat, dan doa menjadi bagian dari ikhtiar memohon rahmat serta ampunan Allah SWT bagi almarhumah.

“Mendoakan orang yang telah wafat merupakan bentuk kepedulian dan penghormatan. Melalui bacaan tahlil, dzikir, shalawat, dan doa, kita berharap Allah SWT memberikan rahmat, maghfirah, serta tempat yang terbaik bagi almarhumah,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan agar tahlilan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum memperkuat iman dan mendorong umat untuk terus berbuat baik.

“Jangan sampai tahlil hanya menjadi kegiatan seremonial. Nilai terpentingnya adalah bagaimana doa, dzikir, dan nasihat yang kita dengarkan mampu menguatkan iman serta mendorong kita untuk terus berbuat baik selama masih diberi umur,” pesannya.

Keluarga: Doa Menjadi Penguat Hati

Sementara itu, Kiai Abdul Kholik, suami almarhumah sekaligus sohibul hajat, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang hadir dan ikut mendoakan almarhumah.

“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada KH Achmad Khidin yang telah memimpin tahlil dan doa, serta kepada keluarga, tetangga, para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh warga yang telah hadir dan ikut mendoakan almarhumah,” tuturnya.

Menurutnya, kehadiran dan doa keluarga serta masyarakat menjadi penguat hati bagi keluarga setelah satu tahun kepergian almarhumah.

“Bagi kami keluarga, kehadiran dan doa panjenengan semua merupakan penguat hati. Setahun telah berlalu sejak almarhumah berpulang, namun doa dan perhatian dari keluarga serta masyarakat menjadi penghiburan sekaligus pengingat bahwa silaturahmi dan kepedulian tetap terjaga,” katanya.

Kiai Abdul Kholik juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama hidupnya almarhumah pernah melakukan kesalahan maupun kekhilafan.

“Kami memohon apabila semasa hidup almarhumah terdapat kesalahan, kekhilafan, maupun tutur kata yang kurang berkenan, kami sekeluarga memohon maaf. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal kebaikannya, mengampuni segala kekhilafannya, dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya,” ujarnya.

Peringatan satu tahun tersebut akhirnya bukan hanya menjadi ruang untuk mengenang sebuah kepergian, tetapi juga menjadi ruang menyambung silaturahmi, memperkuat kepedulian, serta mengingatkan setiap insan bahwa kehidupan merupakan perjalanan menuju Sang Pencipta.

Setahun telah berlalu. Raga telah kembali kepada-Nya. Namun karya, pengabdian, dan kebaikan yang pernah ditanamkan semoga tetap hidup—mengalir dalam doa, tumbuh dalam kenangan, dan menjadi cahaya yang menerangi langkah mereka yang ditinggalkan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *