Lautan Pentakziah Iringi Kepergian Ibu Dirah, KH. M. Ali Sodikin Ajak Umat Muhasabah
BANYUMAS. Radartelusurnews.com || Lautan pentakziah mengiringi kepergian almarhumah Ibu Dirah, ibunda Ust. Abdurrahman Fauzi, Wakil Kepala Bidang Kurikulum, dan Kholid, guru Madrasah Diniyah Salafiyah Syafi’iyah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Minggu (11/10/2026) malam.
Berdasarkan hasil liputan langsung awak media di lokasi rumah duka, almarhumah wafat sekitar pukul 16.00 WIB di kediamannya. Suasana duka menyelimuti keluarga, kerabat, masyarakat, dan keluarga besar madrasah yang hadir untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus mengantarkan almarhumah ke tempat peristirahatan terakhir.
Salat jenazah berjamaah dilaksanakan di Mushala Al-Hidayah, dekat rumah duka, setelah salat berjamaah. Sekitar pukul 19.35 WIB, prosesi pelepasan jenazah berlangsung khidmat, diawali pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan perwakilan keluarga, serta tadzkirah oleh KH. M. Ali Sodikin. Selanjutnya, jenazah diberangkatkan menuju tempat pemakaman umum (TPU) setempat dengan diiringi ratusan pelayat.
Kepala Madrasah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor, Ust. Jamil, yang menyampaikan sambutan mewakili keluarga, mengucapkan terima kasih kepada para ulama, sesepuh, tokoh masyarakat, warga, kerabat, serta seluruh pentakziah yang hadir memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah.
“Atas nama keluarga, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh ulama, sesepuh, masyarakat, kerabat, dan para pentakziah yang telah hadir serta mendoakan almarhumah. Semoga kehadiran panjenengan semua menjadi amal kebaikan di hadapan Allah SWT.”
Ust. Jamil juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama hidupnya almarhumah pernah melakukan kekhilafan, baik melalui perkataan maupun perbuatan, yang disengaja ataupun tidak disengaja.
“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekhilafan almarhumah. Apabila masih ada urusan, tanggungan, atau hak sesama manusia yang belum terselesaikan, kami persilakan untuk menghubungi keluarga, khususnya Abdurrahman Fauzi, agar dapat dibicarakan dan diselesaikan dengan baik.”
Ia turut menyampaikan penghargaan kepada masyarakat yang telah memberikan perhatian dan bantuan selama almarhumah menjalani masa sakit. Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada KH. M. Ali Sodikin atas kepedulian dan bantuan yang diberikan kepada keluarga.
Bagi keluarga, dukungan masyarakat di tengah suasana duka menjadi penguat bahwa kebersamaan dan kepedulian tetap memiliki arti besar ketika seseorang menghadapi kehilangan.
Dalam tadzkirah-nya, KH. M. Ali Sodikin mengajak seluruh jamaah tidak hanya larut dalam suasana duka, tetapi juga menjadikan kepergian almarhumah sebagai momentum untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri.
Ia mengingatkan bahwa kematian merupakan kepastian dari Allah SWT yang dapat datang kapan saja, tanpa memandang usia maupun keadaan seseorang.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kematian adalah kepastian dari Allah SWT, tetapi tidak seorang pun mengetahui kapan waktunya. Karena itu, jangan sampai kita terlena oleh kehidupan dunia dan lupa mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah.”
KH. M. Ali Sodikin menegaskan bahwa peristiwa kematian bukan hanya menjadi pelajaran bagi keluarga yang sedang berduka, melainkan juga bagi siapa pun yang menyaksikan dan mengantarkan jenazah.
“Musibah kematian ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua, bukan hanya bagi keluarga yang ditinggalkan. Mari bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita mempersiapkan amal untuk menghadap Allah SWT? Selagi masih diberi kesempatan hidup, perbanyaklah ibadah, amal saleh, dan kebaikan kepada sesama.”
Ia juga mengingatkan pentingnya meninggalkan amal yang bermanfaat, menyebarkan ilmu, serta mendidik anak-anak agar menjadi pribadi saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya.
“Jangan hanya bersedih ketika melihat saudara kita meninggal dunia. Jadikan peristiwa ini sebagai pengingat untuk memperbaiki diri. Sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh merupakan perkara yang patut kita perhatikan dalam mempersiapkan kehidupan akhirat.”
Menurutnya, keterlibatan almarhumah dalam kegiatan keagamaan, termasuk lingkungan TPQ dan madrasah, diharapkan menjadi bagian dari jejak kebaikan yang terus dikenang. Ia juga mengingatkan bahwa perhatian serta bakti keluarga dalam merawat orang tua yang sedang sakit merupakan perbuatan mulia.
KH. M. Ali Sodikin mengajak jamaah untuk senantiasa menguatkan iman, menjaga ketakwaan, bersabar, dan ikhlas menghadapi ketentuan Allah SWT. Apabila masih ada urusan atau hak sesama manusia yang belum terselesaikan, hal itu hendaknya dibicarakan secara baik agar tidak meninggalkan persoalan bagi keluarga.

Prosesi pelepasan jenazah berlangsung khidmat. Ratusan pentakziah mengiringi perjalanan terakhir almarhumah menuju tempat peristirahatan terakhir. Doa-doa yang dipanjatkan menjadi ungkapan kasih sayang sekaligus harapan agar almarhumah memperoleh ampunan dan rahmat Allah SWT.
Kepergian Ibu Dirah menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia tidak berlangsung selamanya. Di balik perpisahan, ada pelajaran tentang bakti kepada orang tua, pentingnya menjaga hubungan antarsesama, dan perlunya menyiapkan amal sebelum waktu kehidupan berakhir.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf almarhumah, menerima amal ibadahnya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-NYA. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan.
(Redaksi)
