DARI IMPERIUM DUNIA KE TAKDIR NUSANTARA

0
IMG-20261020-WA0016

Mengapa Sebagian Kekuasaan Menghilang, tetapi Warisannya Tetap Menguasai Dunia?

Oleh: MJP Hutagaol ’86

Ketika Kekuasaan Berakhir, Warisan Tetap Hidup

BALI,- Radartelusurnews.com – Sejarah dunia tidak hanya mencatat siapa yang pernah berkuasa, seberapa luas wilayah yang dikuasai, atau seberapa kuat tentaranya. Sejarah juga mencatat sesuatu yang lebih panjang umurnya: bahasa yang digunakan lintas benua, jalur perdagangan yang terus hidup, lembaga yang ditiru, teknologi yang menjadi standar, serta gagasan yang membentuk cara manusia memahami dunia.

Sebuah imperium dapat kehilangan wilayahnya. Rajanya dapat turun takhta. Pusat kekuasaannya dapat berpindah. Namun, pengaruhnya bisa terus hidup melalui sistem yang telah diwariskannya kepada generasi berikutnya.

Pertanyaan strategisnya bukan sekadar, siapa yang akan menjadi kekuatan terbesar berikutnya? Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: mengapa sebagian kekuatan mampu membentuk sistem dunia, sementara sebagian lainnya meninggalkan kejayaan yang hanya dikenang dalam buku sejarah?

Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat tulisan Dari Imperium Dunia ke Takdir Nusantara.

1. Imperium Tidak Selalu Berarti Takhta dan Mahkota

Dalam pengertian sejarah, imperium adalah bentuk kekuasaan yang mengendalikan atau memengaruhi wilayah dan masyarakat yang luas. Akan tetapi, dalam dunia modern, pengaruh global tidak harus diwujudkan melalui penaklukan wilayah secara langsung.

Kekuatan dapat bekerja melalui mata uang, perdagangan, bahasa, teknologi, lembaga keuangan, jaringan informasi, standar industri, dan kemampuan menentukan aturan yang diikuti banyak negara.

Amerika Serikat, Tiongkok, dan negara-negara besar lainnya memiliki bentuk serta sumber pengaruh yang berbeda. Tidak tepat menyamakan semuanya dengan imperium kolonial masa lalu. Namun, pengalaman mereka memperlihatkan bahwa kekuatan internasional tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk, luas wilayah, atau kekuatan militer.

Ada kemampuan lain yang tidak kalah penting: kemampuan membuat dunia bergantung pada sistem yang dikembangkan atau dikuasainya.

Di sinilah kita perlu membedakan tiga hal: menguasai wilayah, memengaruhi perilaku, dan membentuk sistem. Ketiganya berkaitan, tetapi tidak sama.

Negara yang mampu membentuk sistem perdagangan, teknologi, pengetahuan, dan komunikasi dapat mempertahankan pengaruh bahkan ketika bentuk kekuasaannya telah berubah.

2. Imperium Inggris dan Bahasa yang Menyeberangi Zaman

Salah satu contoh paling nyata adalah bahasa Inggris.

Bahasa ini tidak menjadi bahasa internasional hanya karena keunggulan linguistiknya. Penyebarannya berkaitan erat dengan ekspansi Imperium Inggris, jaringan perdagangan dan pendidikan, serta penyebaran administrasi kolonial.

Setelah itu, kekuatan ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan tinggi, industri hiburan, dan pengaruh geopolitik Amerika Serikat memperkuat kedudukan bahasa Inggris dalam hubungan internasional.

British Council mencatat bahwa bahasa Inggris telah menjadi bahasa utama dalam komunikasi ilmu pengetahuan, perdagangan, pariwisata, internet, dan pendidikan tinggi. “https://www.britishcouncil.org/about-us/our-strategy” (https://www.britishcouncil.org/about-us/our-strategy)

Kita melihat sebuah pola sejarah yang penting. Pengaruh Inggris tidak berhenti ketika banyak wilayah jajahannya merdeka. Sebagian warisannya tetap bertahan melalui bahasa, lembaga, sistem hukum di sejumlah negara, dan jaringan pendidikan. Kemudian, sebagian pengaruh tersebut diperkuat oleh kekuatan Amerika Serikat.

Ini bukan berarti bahasa Inggris harus ditolak. Bahasa merupakan alat komunikasi dan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan siapa pun. Pelajarannya adalah bahwa sebuah kekuatan dapat mewariskan pengaruh melalui sistem yang tetap digunakan oleh dunia setelah masa kejayaannya berubah.

Bahasa Indonesia juga memiliki potensi sebagai bahasa ilmu pengetahuan, kebudayaan, diplomasi, dan komunikasi lintas bangsa. Namun, potensi itu memerlukan karya, pendidikan bermutu, penerjemahan, penelitian, serta ekosistem pengetahuan yang konsisten.

Kebanggaan terhadap bahasa sendiri akan semakin kuat ketika bahasa tersebut mampu mengantarkan gagasan yang berguna bagi masyarakat dunia.

3. Diaspora Tionghoa: Kekuatan Jaringan Manusia

Contoh berikutnya adalah diaspora Tionghoa.

Sejarah migrasi masyarakat Tiongkok berlangsung selama berabad-abad. Artikel Zhuang Guotu dalam The UNESCO Courier, diperbarui pada 2024, menjelaskan bahwa migrasi Tionghoa telah berlangsung sejak berkembangnya Jalur Sutra Maritim lebih dari 2.000 tahun lalu, terutama menuju Asia Tenggara.

Artikel tersebut, dengan merujuk data Organisasi Internasional untuk Migrasi, menyebut lebih dari 10,7 juta migran asal Tiongkok dan sekitar 60 juta jika keturunannya turut diperhitungkan. Angka ini harus dibaca sesuai sumber dan tahun rujukannya, bukan sebagai hasil sensus global terbaru yang seragam. “https://courier.unesco.org/en/articles/overseas-chinese-long-history” (https://courier.unesco.org/en/articles/overseas-chinese-long-history)

Sejarah itu juga mencatat keberadaan komunitas Tionghoa di Sumatra dan Jawa pada awal abad ke-15. Namun, migrasi dalam skala besar dan penyebaran yang semakin luas ke berbagai belahan dunia berlangsung melalui beberapa gelombang, termasuk sejak akhir abad ke-16 dan terutama sejak abad ke-19.

Apa yang dapat kita pelajari?

Jaringan manusia dapat bertahan melintasi perubahan pemerintahan, pergantian dinasti, dan batas negara. Hubungan keluarga, perdagangan, bahasa, pendidikan, organisasi masyarakat, dan ikatan dengan tempat asal dapat membantu mempertahankan jaringan tersebut.

Tentu saja, diaspora Tionghoa tidak seragam. Setiap komunitas memiliki sejarah, kondisi ekonomi, pengalaman politik, dan proses integrasi yang berbeda. Keberhasilan individu atau komunitas tidak boleh dijelaskan dengan stereotip etnis.

Yang penting bagi kajian strategis kita adalah mekanismenya: jaringan manusia dapat menjadi penghubung perdagangan, pengetahuan, modal, dan kebudayaan antarwilayah.

Indonesia sendiri merupakan rumah bagi beragam kelompok masyarakat dengan sejarah migrasi dan jaringan yang berbeda-beda. Pertanyaannya, bagaimana kita mengembangkan hubungan antarmasyarakat dan diaspora Indonesia di berbagai negara agar memperkuat ilmu pengetahuan, perdagangan, investasi produktif, serta diplomasi kebudayaan?

Kita tidak perlu meniru identitas bangsa lain. Kita perlu memahami bagaimana jaringan manusia dibangun, dirawat, dan diarahkan untuk menghasilkan manfaat bersama.

4. Sriwijaya: Membaca Kekuatan dari Jaringan Maritim

Jauh sebelum dunia mengenal sistem komunikasi digital, Nusantara telah memiliki pengalaman penting dalam menghubungkan wilayah melalui laut dan sungai.

Sriwijaya menjadi salah satu contoh utama yang patut dipelajari.

Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 682 Masehi merupakan salah satu sumber penting mengenai kemunculan Sriwijaya. Prasasti tersebut mencatat perjalanan Dapunta Hyang dan pembentukan permukiman yang berkaitan dengan awal kekuatan Sriwijaya. Penelitian tentang jaringan perdagangan sungainya menunjukkan bagaimana hasil dari wilayah hulu—seperti emas, kapur barus, dan komoditas lainnya—dapat dialirkan menuju kawasan hilir, pelabuhan, dan jaringan perdagangan regional. “https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/prasasti-tertua-yang-berangka-tahun-di-indonesia/” (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/prasasti-tertua-yang-berangka-tahun-di-indonesia/); “https://scholarhub.ui.ac.id/paradigma/vol9/iss1/5/” (https://scholarhub.ui.ac.id/paradigma/vol9/iss1/5/)

Pelajaran pentingnya bukan bahwa Sriwijaya menguasai seluruh dunia. Klaim seperti itu tidak diperlukan untuk memahami arti sejarahnya.

Yang patut kita kaji adalah kemampuan menghubungkan sumber daya pedalaman, jalur sungai, pelabuhan, pelayaran, dan perdagangan lintas kawasan. Kekuatan maritim tidak lahir hanya dari keberadaan kapal, tetapi dari keterpaduan jaringan yang memungkinkan barang, manusia, dan pengetahuan bergerak.

Dalam pengertian ini, laut bukan sekadar batas geografis. Laut dapat menjadi penghubung ekonomi dan kebudayaan.

Kita juga perlu menghindari romantisme sejarah. Sriwijaya hidup dalam konteks zamannya, dengan bentuk kekuasaan dan hubungan antarkawasan yang berbeda dari negara modern. Kita tidak dapat memindahkan begitu saja sistem masa lalu ke Indonesia hari ini.

Namun, pengalaman tersebut mengingatkan kita bahwa posisi geografis baru menjadi kekuatan apabila didukung kemampuan organisasi, teknologi, sumber daya manusia, diplomasi, dan pengelolaan ekonomi.

Indonesia adalah negara kepulauan yang strategis. Akan tetapi, menjadi negara kepulauan tidak otomatis menjadikan kita kekuatan maritim. Potensi geografis harus diterjemahkan menjadi kemampuan nyata.

5. Dari Imperium Kolonial ke Imperium Korporasi dan Teknologi

Sejarah kekuasaan juga memperlihatkan bahwa pengaruh global tidak selalu dijalankan oleh negara secara langsung.

VOC, misalnya, merupakan perusahaan dagang yang memperoleh hak istimewa dari negara Belanda. Dalam praktik sejarahnya, VOC memiliki armada, menjalankan monopoli perdagangan, membangun benteng, dan menggunakan kekuatan politik serta militer untuk kepentingannya.

Kasus VOC memperlihatkan bahwa ketika modal, hak politik, perdagangan, dan kekuatan bersenjata bertemu, sebuah organisasi komersial dapat menjalankan fungsi yang jauh melampaui kegiatan bisnis biasa.

Pada zaman sekarang, bentuk pengaruhnya berbeda. Perusahaan teknologi dapat memengaruhi kehidupan global melalui perangkat lunak, layanan digital, sistem operasi, pusat komputasi, jaringan satelit, dan infrastruktur komunikasi.

Steve Jobs menjadi contoh penting dalam sejarah inovasi produk dan ekosistem teknologi konsumen. Elon Musk, melalui berbagai perusahaan yang dipimpinnya atau didirikannya, memperlihatkan bagaimana hubungan antara teknologi antariksa, komunikasi satelit, kendaraan listrik, dan kecerdasan buatan dapat menjadi bagian dari persaingan strategis modern.

Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa satu tokoh atau perusahaan menguasai seluruh sistem dunia. Perusahaan tetap beroperasi dalam ekosistem yang melibatkan negara, pekerja, pemasok, peneliti, investor, regulasi, dan pengguna.

Pelajaran yang relevan bagi Indonesia ialah bahwa inovasi tidak cukup hanya menghasilkan produk yang menarik. Kekuatan jangka panjang lahir ketika sebuah bangsa membangun ekosistem riset, industri, talenta, modal, infrastruktur, dan pasar yang saling mendukung.

Kita tidak hanya perlu menjadi pengguna teknologi. Kita juga perlu meningkatkan kemampuan merancang, memproduksi, mengelola, dan mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan bangsa.

6. Perang Fondasi: Energi, Data, dan Persepsi

Dari sejarah Inggris, diaspora Tionghoa, Sriwijaya, VOC, hingga perusahaan teknologi modern, terlihat satu benang merah: kekuatan bertahan ketika memiliki fondasi yang mampu mereproduksi pengaruhnya.

Dalam kerangka pemikiran Perang Fondasi yang saya kembangkan, terdapat tiga dimensi yang saling berkaitan: Energi, Data, dan Persepsi.

Energi menopang produksi, transportasi, industri, pertahanan, dan kehidupan masyarakat. Ketergantungan yang berlebihan pada sumber energi atau rantai pasok yang rentan dapat membatasi pilihan strategis suatu negara.

Data merupakan bahan dasar bagi pengetahuan, pengambilan keputusan, kecerdasan buatan, dan pengelolaan sistem modern. Namun, data saja tidak cukup. Diperlukan kemampuan komputasi, infrastruktur, keamanan, kualitas informasi, sumber daya manusia, serta tata kelola yang bertanggung jawab.

Persepsi berhubungan dengan bagaimana masyarakat memahami kenyataan, menilai legitimasi, dan membentuk kepercayaan. Bahasa, media, pendidikan, kebudayaan, serta algoritma digital dapat memengaruhi cara informasi diterima dan ditafsirkan.

Ketiganya bukan bidang yang berdiri sendiri. Energi menopang infrastruktur digital. Data membantu mengelola energi dan sistem industri. Persepsi memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap kebijakan, teknologi, dan arah pembangunan.

Karena itu, persaingan global tidak cukup dibaca hanya melalui jumlah kapal perang, pesawat, atau besarnya produk domestik bruto. Kita juga perlu melihat ketahanan energi, kemandirian teknologi, kendali atas infrastruktur penting, mutu informasi, dan kepercayaan masyarakat.

Kerangka ini merupakan alat analisis yang perlu terus diuji melalui data, indikator, dan studi kasus. Ia bukan indeks baku yang telah memperoleh validasi ilmiah menyeluruh.

Pada seri berikutnya, ketiga dimensi ini akan dibahas lebih dalam untuk melihat bagaimana fondasi kekuatan dunia dibangun, diperebutkan, dan dipertahankan.

7. Dari Satelit hingga Kedaulatan Pengetahuan

Satelit memberikan contoh konkret tentang hubungan antara teknologi dan kemampuan strategis.

Program Copernicus milik Uni Eropa menggunakan satelit Sentinel-1 dengan radar yang dapat mengamati permukaan bumi siang maupun malam dan dalam berbagai kondisi cuaca. Data pengamatan bumi dapat membantu pemantauan lingkungan, perubahan permukaan tanah, bencana, dan berbagai kebutuhan operasional. “https://www.esa.int/Applications/Observing_the_Earth/Copernicus/Sentinel-1” (https://www.esa.int/Applications/Observing_the_Earth/Copernicus/Sentinel-1)

Kemampuan seperti ini menunjukkan bahwa data geografis bukan sekadar gambar dari angkasa. Jika dikelola dengan baik, data dapat menjadi dasar perencanaan, mitigasi bencana, pengawasan wilayah, penelitian, dan pengambilan keputusan.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, kemampuan memahami wilayah sendiri merupakan bagian dari kedaulatan pengetahuan.

Kita perlu memperkuat kemampuan mengolah data penginderaan jauh, mengembangkan teknologi, membangun tenaga ahli, dan mengintegrasikan informasi dengan kebutuhan lembaga serta masyarakat. Kerja sama internasional tetap penting, tetapi kerja sama yang baik juga harus meningkatkan kemampuan nasional, bukan sekadar membuat kita terus bergantung pada pihak lain.

Hal yang sama berlaku pada kecerdasan buatan. Membeli perangkat atau menggunakan aplikasi AI tidak otomatis membuat suatu negara mandiri secara teknologi. Kemandirian memerlukan kemampuan mengembangkan talenta, menguasai bagian penting rantai nilai, melindungi data, membangun infrastruktur, serta memahami dampak sosial dan etisnya.

Kedaulatan pada abad ke-21 tidak hanya menyangkut siapa yang menguasai wilayah, tetapi juga siapa yang mampu memahami wilayahnya sendiri, mengolah informasinya, dan menentukan keputusan berdasarkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

8. Takdir Nusantara Bukan Sekadar Mengulang Kejayaan

Setelah membaca berbagai pengalaman sejarah tersebut, kita sampai pada pertanyaan tentang Indonesia.

Apakah takdir Nusantara berarti mengembalikan imperium masa lalu? Menurut saya, tidak.

Takdir Nusantara harus dibaca sebagai kemungkinan sejarah yang masih terbuka: kemampuan Indonesia mengubah kekayaan geografis, sumber daya alam, keragaman budaya, jumlah penduduk, dan pengalaman sejarah menjadi kekuatan yang bermanfaat bagi rakyat serta memberi sumbangan kepada dunia.

Kita memiliki posisi penting di antara Samudra Hindia dan Pasifik. Kita memiliki sumber daya energi dan mineral strategis. Kita memiliki bahasa nasional yang menyatukan masyarakat yang beragam. Kita juga memiliki Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai bagian dari fondasi kehidupan kebangsaan.

Namun, semua itu tidak otomatis menghasilkan kekuatan.

Sumber daya tanpa teknologi dapat membuat kita bergantung pada pengolahannya di luar negeri. Jumlah penduduk tanpa pendidikan dan kesehatan yang baik belum tentu menghasilkan produktivitas tinggi. Keragaman tanpa keadilan dan rasa saling percaya dapat menjadi sumber ketegangan. Sementara itu, semboyan kebangsaan tanpa praktik yang konsisten berisiko berhenti sebagai kata-kata.

Bhinneka Tunggal Ika tidak perlu diklaim telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO untuk menunjukkan relevansinya. Nilai persatuan dalam keberagaman dapat menjadi sumbangan Indonesia kepada dunia apabila diwujudkan dalam kehidupan nyata, kelembagaan yang adil, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Demikian pula, Pancasila bukan sekadar simbol. Ia menuntut penerjemahan ke dalam kebijakan, pendidikan, kepemimpinan, hukum, dan tata kelola yang dapat dirasakan manfaatnya.

Tantangannya adalah membangun institusi yang kuat, manusia yang berkarakter, ilmu pengetahuan yang berkembang, ekonomi yang produktif, dan kemampuan strategis yang tidak mudah digoyahkan oleh perubahan global.

Kita tidak perlu menempatkan diri sebagai lawan dari seluruh peradaban lain. Kita dapat belajar dari pengalaman dunia, bekerja sama dengan bangsa lain, dan tetap menjaga kemampuan menentukan kepentingan nasional secara mandiri.

Inilah perbedaan antara nostalgia kejayaan dan strategi masa depan.

Nostalgia bertanya, “Seberapa besar kita dahulu?”

Strategi bertanya, “Apa yang dapat kita bangun sekarang, dan warisan apa yang akan kita tinggalkan bagi generasi mendatang?”

Penutup: Warisan yang Harus Kita Bangun

Bahasa Inggris memperlihatkan bagaimana warisan imperium dapat bertahan dan diperkuat oleh kekuatan penerusnya. Diaspora Tionghoa memperlihatkan bagaimana jaringan manusia dapat menghubungkan masyarakat lintas negara dan generasi. Sriwijaya mengingatkan kita pada pentingnya keterpaduan jalur perdagangan, sumber daya, dan kemampuan maritim. VOC dan perusahaan teknologi modern memperlihatkan bahwa hubungan antara organisasi, modal, pengetahuan, dan infrastruktur dapat membentuk pengaruh yang melampaui batas geografis.

Contoh-contoh tersebut tidak memiliki sejarah yang sama. Namun, semuanya mengajak kita memikirkan pertanyaan serupa: apa yang membuat suatu pengaruh bertahan?

Jawabannya tidak tunggal. Ia bergantung pada kondisi sejarah, kemampuan kelembagaan, pengetahuan, jaringan manusia, teknologi, dan hubungan dengan masyarakat yang menerima pengaruh tersebut.

Bagi Indonesia, pelajaran itu bukanlah untuk mengejar dominasi atas bangsa lain. Yang perlu kita bangun ialah kemampuan menentukan masa depan sendiri, menjaga kepentingan nasional, dan memberikan sumbangan yang berarti bagi kemanusiaan.

Imperium dapat lahir dari kekuasaan, tetapi warisan peradaban hanya akan bertahan apabila terus memberi makna bagi kehidupan manusia.

Nusantara memiliki sejarah yang layak dipelajari dan potensi yang perlu dikembangkan. Tugas kita bukan sekadar membanggakan masa lalu, melainkan mengubah pelajaran sejarah menjadi ilmu, ilmu menjadi kemampuan, dan kemampuan menjadi kesejahteraan serta martabat bangsa.

Dari sinilah perjalanan Dari Imperium Dunia ke Takdir Nusantara dimulai..

Diteruskan oleh
Biyung AR,Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *