Berlokasi di Pantai Krui, Markas Bakamla RI Masih Dibangun , Rekanan Targetkan Selesai 30 Desember 2026
RTNews..Krui-Lampung – Proyek pembangunan fasilitas dan Stasiun Pemantauan Keamanan dan Keselamatan Laut (SPPKL) milik Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI di Pantai Kelurahan Pasar Kota Krui, Kecamatan Pesisir Tengah Kabupaten Pesisir Barat, masih dilaksanakan.

Kontraktor pelaksana proyek tersebut adalah PT Lesindo Bersinar dengan nomor kontrak KTR 002/PPK SARPRAS/BAKAMLA/VIII/2026. Sesuai jadwal, proyek ditargetkan PHO pada 30 Desember 2026.
Pantauan jurnalis di lokasi, Rabu 16 Oktober 2026, aktivitas pembangunan tampak sibuk. Para pekerja, alat berat, tumpukan batu, kayu, besi, pasir, semen, truk, hingga mesin molen pengaduk material terus berputar. Bangunan kayu yang dijadikan mess pekerja dan gudang material juga terlihat di lokasi. Meski berada di pinggir pantai dengan cuaca terik dan panas musim kemarau, pekerjaan tetap berjalan.
Pelaksana lapangan, Ariyanto, saat ditemui di lokasi menjelaskan, di lahan tersebut akan dibangun markas Bakamla lengkap dengan fasilitas kantor, mess, gerbang, dan pos penjaga. Pembangunan ini dalam upaya menjaga stabilitas keamanan di jalur perairan Pesisir Barat.
“Jadi ini ada mess panjang 25 meter lebar 11 meter tiga lantai. Sebelah sana nanti ada markas komando. Kalau di sini nanti kepalanya mungkin selevel Kolonel. Tanggal 30 Desember rencananya selesai,” kata Ariyanto.
Ia menyebut, PT Lesindo Bersinar merupakan mitra Bakamla dan TNI Angkatan Laut yang sudah berpengalaman membangun fasilitas serupa di berbagai daerah.
“Kami membangun di Tanjung Balai Asahan, Labuan Bajo NTT perbatasan Timor Leste, Batam zona barat. Kalau di Batam itu ada 4 pangkalan. Kami hanya pelaksana. fungsinya untuk memantau keamanan laut,” jelas dia.
Kata dia nantinya kalau telah beroperasi diperkirakan akan ditempatkan sekitar 20 hingga 30 personel militer di lokasi tersebut.
Sejauh ini, kata Ariyanto, pelaksanaan proyek berjalan lancar tanpa kendala berarti.
“Kendala pembangunan sementara tidak ada. Batu dan pasir ngambil dari Liwa. Kalau besi Karena di sini tidak mencukupi, kami ambil dari Bandar Lampung dan Jakarta, termasuk bata ringan dan lainnya,” ujarnya.
Saat disinggung mengenai plang proyek yang tidak mencantumkan nilai anggaran, pada proyek yang didanai Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Ariyanto menjelaskan hal itu sesuai arahan.
“Itu dari Bakamla memang begitu. Kami semua ikutin arahan dari Bakamla,” tukasnya.
(Y)
