Kemarau Berkepanjangan, Ribuan Umat Bermunajat, Banyumas Memohon Hujan!

0
IMG-20261012-WA0217

Purwokerto.Radartelusurnews.com ||- Ketika kemarau panjang mengeringkan bumi, ribuan umat Islam menengadahkan tangan, bersujud, dan bermunajat memohon rahmat Allah SWT. Salat Istisqa digelar di Alun-alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Senin (12/10/2026), sebagai ikhtiar spiritual menghadapi kekeringan yang kian meluas.

Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Banyumas bersama Panitia Hari Besar Islam (PHBI), TNI, dan Polri tersebut diikuti Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, aparatur sipil negara (ASN), anggota TNI-Polri, Jajaran Kementerian Agama, serta masyarakat. Mereka menyatukan doa dan harapan agar hujan segera turun, sumber air kembali terisi, dan kehidupan masyarakat terbebas dari kesulitan air bersih.

Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan, kekeringan tahun ini dirasakan lebih parah dibandingkan pada 2023. Karena itu, masyarakat diminta bijaksana menggunakan air sekaligus menjaga kelestarian sumber-sumber air.

“Salat ini merupakan salah satu ikhtiar kita memohon kepada Allah agar hujan segera turun. Namun, ikhtiar juga harus disertai usaha menjaga sumber-sumber air dan menghemat penggunaannya,” kata Sadewo.

Pemkab Banyumas terus melakukan penanganan melalui distribusi air bersih menggunakan mobil tangki ke wilayah terdampak. Pemerintah daerah juga merencanakan penambahan tangki penampungan air, melakukan survei, serta berkoordinasi dengan TNI untuk pembangunan sumur bor secara bertahap.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya membantu kebutuhan darurat, tetapi juga memperkuat ketersediaan air bersih untuk jangka panjang dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran daerah.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas, KH Taifur Arofat, dalam khotbahnya mengajak jamaah menjadikan kemarau panjang sebagai momentum introspeksi diri, memperbanyak istigfar, meningkatkan rasa syukur, serta memperbaiki perilaku terhadap sesama dan lingkungan.

Ia mengingatkan bahwa air merupakan nikmat besar yang sering kali baru disadari ketika sulit diperoleh. Masyarakat juga diajak bertobat dan menjaga kelestarian alam, termasuk tidak merusak hutan secara semena-mena.

Pesan tersebut menegaskan bahwa ikhtiar spiritual harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Hujan yang diharapkan bukan sekadar membasahi tanah, melainkan membawa kesuburan, keselamatan, dan kemaslahatan bagi masyarakat.

Salat Istisqa dipimpin Imam KH Dr. Sofyan Mabrur, dosen UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Dr. H. Ibnu Asaddudin, S.Ag., M.Pd., menjadi salah satu tokoh yang relevan dalam penguatan pesan keagamaan pada kegiatan ini.

“Salat Istisqa menjadi ikhtiar batin untuk memohon rahmat Allah SWT. Mari perbanyak doa dan istigfar, jaga lingkungan, serta hemat air. Semoga Allah segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan bagi Banyumas.”

Doa Mengalir, Ikhtiar Tak Boleh Berhenti

Salat Istisqa menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dan senantiasa membutuhkan pertolongan Allah SWT. Di tengah tanah yang merindukan tetes hujan, doa dipanjatkan, kepedulian dikuatkan, dan ikhtiar nyata harus terus dijalankan.

Masyarakat berharap hujan segera turun untuk mengurangi dampak kekeringan dan memulihkan ketersediaan air bersih. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya, menyirami bumi Banyumas dengan hujan yang bermanfaat, menghidupkan kembali sumber-sumber air, menyuburkan tanah, serta menjauhkan masyarakat dari musibah.

Sebab, ketika langit belum menurunkan hujan, manusia tetap wajib menjaga setiap tetes air. Doa menguatkan harapan, sedangkan ikhtiar menjadi bukti kesungguhan.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *