Mau Tahu, Manifesto Ruhani Perjuangan Mbah Sod di Madrasah Al-Ittihaad

0

 

RTNews. Banyumas – Di bawah langit Karanglewas yang merunduk khidmat, sebuah noktah cahaya menyala dari kediaman Bapak Agus (Ketua RW setempat) di belakang gedung Madrasah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor. Pada Jumat malam (01/05/2026).

Suasana Selapanan pengurus dan guru berubah menjadi episentrum getaran ruhani yang luar biasa. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi rutin, melainkan sebuah “Manifesto Al-Ittihaad Pasir Lor”, sebuah refleksi penyemangat bagi para pejuang pendidikan Islam yang dirajut dalam balutan profesionalitas dan ketulusan ibadah dari waktu kewaktu.

Acara dibuka dengan tahlil singkat, kirim doa, lanjut paparan laporan dari Kepala Madrasah, Ust. Jamil, mengenai progres pendidikan, yang disusul oleh laporan teknis panitia qurban dan diteruskan laporan oleh koordinator arisan.

Namun, suasana kian memuncak dan menghujam sanubari saat tokoh muda yang  sepuh dan kharismatik, KH. M. Ali Sodikin atau yang akrab disapa, lebih dikenal Mbah Sod, menyampaikan enam pilar pitutur nasehat yang tegas dan sarat makna filosofis. 

Beliau menegaskan, “Shalatlah sebelum engkau dishalatkan!, Jangan sampai saat waktunya tubuhmu terbujur di dalam keranda, engkau baru ‘masuk’ ke masjid namun dalam keadaan tak lagi bernyawa karena semasa hidup engkau melalaikan sujud.”

Mbah Sod melanjutkan dengan pilar kedua yang menuntut kesadaran tinggi, yakni

“Tinggalkanlah dunia sebelum engkau meninggal dunia!”

Beliau berpesan agar setiap pengurus dan guru memiliki profesionalitas yang tuntas, melepaskan keterikatan hati pada kemilau materi agar pengabdian di madrasah menjadi murni tanpa beban ego. Ketegasan beliau kian terasa saat menyentuh pilar ketiga,

“Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, tapi bersedekahlah sampai engkau kaya!”

Sebuah logika langit yang meyakini bahwa berbagi adalah kunci pembuka pintu rezeki yang paling rahasia.

Tak berhenti di situ, beliau membakar semangat para pendidik dengan pilar keempat: 

“Berdakwahlah sampai engkau alim!”

Beliau menekankan bahwa ilmu tak harus menunggu gelar untuk diamalkan,  keberkahan justru hadir bagi mereka yang berani mengajar meski dalam keterbatasan. Hal ini berkelindan dengan pilar kelima,

“Kembalilah ke masjid sampai engkau tua!” 

Beliau menuntut raga yang muda dan kuat untuk meramaikan rumah Allah SWT, bukan menunggu usia senja saat langkah kaki sudah melemah. 

Sebagai pamungkas yang menyayat kalbu, beliau menegaskan pilar keenam,

“Bertobatlah sebelum ajal menjemput! Jangan sampai penyesalan itu datang saat maut sudah di kerongkongan dan pintu ampunan telah tertutup rapat.”

Di akhir silaturrahmi yang penuh haru, keluarga besar Madrasah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh pengurus, guru, staf tata usaha, serta para tokoh RT, RW, tokoh agama, dan tokoh masyarakat di lingkungan madrasah. 

Kontribusi, semangat, dan doa yang diberikan secara tulus hingga hari ini merupakan energi utama dalam menjaga, merawat, dan membesarkan madrasah tercinta. 

Kepercayaan ini terbukti nyata dengan melonjaknya perhatian masyarakat; tahun ini, Madrasah Al-Ittihaad 2 kembali mendapatkan amanah besar dengan diterimanya santri baru sebanyak 46 santri, total santri 220 ditahun ini.

Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan yang meluap kepada para wali santri yang telah menitipkan putra-putrinya untuk menimba ilmu, serta kepada semua pihak yang telah berjuang bersama.

Semoga Madrasah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor terus menjadi wasilah lahirnya generasi saleh-salehah yang menjadi cahaya bagi umat dan bangsa. Amin Ya Rabbal Alamin

Madrasah Al-Ittihaad, Hebat Berdampak Bermanfaat.

(Kontributor /Djarmanto-YF2DOI//Redaksi)

Tinggalkan Balasan