Kantor PLN Bau Busuk Dilempar Ribuan Ayam Mati, Peternak Me-deadline Senin, Desak Solusi Pemadaman Listrik
RTNews. PALANGKA RAYA – Aksi protes puluhan peternak ayam terhadap (PLN) berujung ricuh. Massa yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan Pinsar Kalimantan Tengah melempar ayam busuk ke halaman Kantor (PLN UP3) Palangka Raya di Jalan Ahmad Yani, Rabu (29/7/2026) setelah hingga hari kedua unjuk rasa mereka tak kunjung dipertemukan dengan General Manager (PLN)
Aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan peternak yang mengaku terus merugi akibat pemadaman listrik berulang. Mereka menilai gangguan pasokan listrik telah memicu kematian ayam dalam jumlah besar dan mengancam keberlangsungan usaha peternakan di Kalimantan Tengah.
Ketua Pinsar Kalimantan Tengah, Andi Bustan, mengatakan sebagian besar peternakan ayam modern di daerah ini menggunakan sistem kandang tertutup close house yang seluruh operasionalnya bergantung pada listrik.
Kalau kondisi ini terus dibiarkan, peternak bisa kolaps. Harga ayam sudah jatuh, sekarang ditambah sering mati lampu. Ayam yang dipelihara selama 40 hari justru mati menjelang panen,” ujarnya.
Menurut Andi, sekitar 90 persen kandang ayam di Kalimantan Tengah merupakan kandang close house. Akibatnya, listrik padam selama lima menit saja dapat menyebabkan ribuan ayam mati karena sistem ventilasi berhenti beroperasi.
Ia mengungkapkan, satu kandang berkapasitas sekitar 40 ribu ekor ayam berpotensi mengalami kerugian hingga Rp (360) juta jika terjadi kematian massal. Bila gangguan listrik terjadi di banyak kandang, total kerugian bisa mencapai miliaran rupiah.
Bukan hanya peternak yang rugi. Perusahaan juga terdampak. Kalau produksi terus menurun, pasokan ayam akan berkurang dan harga di pasaran bisa melonjak,” katanya.
Andi menyebut industri perunggasan di Kalimantan Tengah melibatkan sedikitnya 12 perusahaan besar dengan sekitar (3.000) hingga (4.000) tenaga kerja. Kerugian akibat pemadaman listrik, lanjutnya, dirasakan hampir di seluruh kabupaten, terutama di Palangka Raya, Kotawaringin Barat, dan Kotawaringin Timur.
Meski setiap kandang telah dilengkapi genset, menurutnya penggunaan genset bukan solusi jangka panjang karena membutuhkan solar dalam jumlah besar, sementara sebagian besar lokasi peternakan berada jauh dari (SPBU)
Pinsar Kalteng meminta (PLN) memetakan kawasan peternakan agar pemadaman dapat diminimalkan atau menyiapkan solusi lain, seperti dukungan genset saat terjadi gangguan listrik. Jika tidak ada langkah konkret, para peternak membuka peluang menempuh jalur hukum untuk memperjuangkan hak mereka.
Kami memahami pemadaman kadang tidak bisa dihindari. Namun harus ada solusi. Jangan sampai peternak terus menanggung kerugian akibat persoalan yang sama,” tegas Andi.
(Herman Soetiady)
