NU-Muhammadiyah Dipuji Boston University, UIN Walisongo Menggema
RTNews. Semarang || Di bawah langit ilmu dan semangat kemanusiaan, Auditorium Rektorat UIN Walisongo Semarang menjadi saksi pertemuan gagasan lintas bangsa dalam International Seminar on Indonesian Islam and Global Affairs, Senin (10/8/2026).
Seminar ini menghadirkan akademisi dari Indonesia, Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, dan Timor Leste untuk membahas peran Islam Indonesia di tengah dinamika dunia yang terus bergolak.
President of American Institute for Indonesian Studies dari Boston University Amerika Serikat, Robert W. Hefner, mengaku kagum terhadap peran Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam membangun wajah Islam Indonesia yang moderat, terbuka, dan berorientasi pada pelayanan sosial.
“Saya belum menemukan organisasi keagamaan sebesar NU dan Muhammadiyah yang begitu fokus pada pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial, bukan semata-mata pada politik,” tegas Robert W. Hefner di hadapan peserta seminar.
Ketua Program Studi Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Ahmad Izzuddin, menjelaskan bahwa seminar ini menghadirkan Robert W. Hefner, Sumanto Al-Qurtuby, dan Muhyar Fanani, dengan moderator Agus Nurhadi. Peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri sebagai bagian dari penguatan dialog akademik internasional.
Dalam paparannya, Robert W. Hefner mengenang penelitiannya sejak dekade 1980-an di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur. Dari pengalaman itu, ia melihat bahwa NU dan Muhammadiyah tidak hanya berperan dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam pendidikan, sosial, demokrasi, dan penguatan nilai kemanusiaan.
“Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa Islam dapat aktif dalam kehidupan publik tanpa kehilangan komitmen terhadap nilai-nilai agama,” ujarnya.
Sementara itu, Sumanto Al-Qurtuby mengingatkan agar masyarakat tidak memahami konflik Timur Tengah secara dangkal. Menurutnya, konflik di kawasan tersebut tidak bisa disederhanakan hanya sebagai persoalan agama, karena terkait erat dengan politik, sejarah, ekonomi, etnis, migrasi, dan kepentingan internasional.
“Konflik Timur Tengah sangat problematik dan kompleks. Tidak mudah menjelaskannya hanya dari satu sudut pandang, terutama hanya melalui pendekatan agama,” tegas Sumanto Al-Qurtuby.
Rektor UIN Walisongo, Musahadi, menegaskan bahwa Islam Indonesia memiliki kontribusi penting bagi dunia melalui nilai wasathiyah (moderasi Islam) dan unity of sciences (integrasi keilmuan). Ia menekankan bahwa universitas harus menjadi ruang lahirnya solusi bagi persoalan global.
“Universitas harus menjadi laboratorium intelektual untuk memahami persoalan nyata, menghasilkan penelitian, dan memberi kontribusi bagi penyelesaian masalah global,” tegas Musahadi.
Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, Muhyar Fanani, menambahkan bahwa seminar ini merupakan komitmen untuk membangun tradisi akademik yang terbuka, kritis, dan berwawasan global. Ia berharap forum ini melahirkan kolaborasi riset, publikasi ilmiah, dan jejaring internasional yang memperkuat pesan perdamaian, toleransi, demokrasi, dan kemanusiaan.
Di tengah dunia yang sering gaduh oleh prasangka dan konflik, Semarang mengirimkan pesan yang lembut namun kuat: ilmu harus menuntun pada kedamaian, agama harus memuliakan kemanusiaan, dan Indonesia dapat menjadi cahaya dialog bagi peradaban dunia.
(Redaksi)
