SMP N 3 Kedungbanteng Menjaga Jati Diri Dengan Menyalakan Sastra Jawa

0
IMG-20260903-WA0044

RTNews. Banyumas — Di tengah derasnya arus budaya global, SMP Negeri 3 Kedungbanteng Banyumas menyalakan kembali kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur melalui Literasi Budaya dan Apresiasi Budaya Sastra Jawa, Kamis (03/09/2026).

Kegiatan tersebut menjadi panggung ekspresi sekaligus ruang pembelajaran bagi siswa dan guru. Sejumlah kesenian dan sastra Jawa ditampilkan, mulai dari Macapat Dhandhanggula, Ndagel Banyumasan, Ndongeng, hingga Sesorah, dengan mengangkat kekayaan bahasa dan tradisi masyarakat Banyumas.

Kepala SMP Negeri 3 Kedungbanteng, Purwoko Jugo Prijono, S.Pd., mengatakan pelestarian budaya merupakan bagian dari pendidikan karakter yang perlu ditanamkan sejak bangku sekolah. Menurutnya, siswa perlu memiliki kemampuan akademik sekaligus akar identitas yang kuat.

“Harapan kami, kecintaan terhadap budaya Banyumasan tumbuh menjadi karakter siswa, bukan sekadar pengetahuan di ruang kelas. Mereka harus mampu mengenali, menghargai, dan menjaga warisan leluhur agar tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman,” kata Purwoko.

Koordinator Program Literasi, Wiwit Wahyu Rosmawati, S.Pd., menempatkan kegiatan tersebut sebagai upaya memperluas makna literasi. Siswa tidak hanya dilatih membaca dan menulis, tetapi juga diajak memahami pesan moral, tata krama, serta nilai kehidupan yang terkandung dalam sastra Jawa.

“Kami berharap literasi budaya menjadi program yang berkelanjutan dan semakin memberi ruang kepada siswa untuk berkreasi. Dengan begitu, sastra Jawa tidak hanya dipelajari sebagai materi, tetapi benar-benar dipahami, dipraktikkan, dan diwariskan oleh generasi berikutnya,” ujar Wiwit.

Antusiasme peserta terlihat dari keberanian siswa tampil di hadapan warga sekolah. Annisa Fathul Khasanah, siswi kelas 8A yang membawakan Ndagel Ijen, mengaku memperoleh pengalaman berharga dari kegiatan tersebut.

“Saya berharap kegiatan seperti ini terus digelar karena memberi kesempatan kepada kami untuk berani tampil dan meningkatkan kepercayaan diri. Saya juga ingin semakin banyak teman yang bangga menggunakan bahasa Jawa Banyumasan tanpa merasa malu dengan budaya daerah sendiri,” tutur Annisa.

Sementara itu, Felma Amelia Safitri, siswa kelas 9C yang tampil membawakan Sesorah, menilai pembelajaran budaya memberikan pengalaman yang tidak diperoleh hanya melalui pelajaran akademik.

“Saya berharap generasi muda tidak hanya mengenal budaya Banyumas, tetapi juga memahami tata krama dan nilai kesopanan yang ada di dalamnya. Semoga kegiatan ini terus menjadi ruang bagi siswa untuk belajar berbicara dengan santun sekaligus menghargai warisan leluhur,” ungkap Felma.

Melalui kegiatan tersebut, SMP Negeri 3 Kedungbanteng menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertugas mencerdaskan intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan menjaga jati diri. Ketika bahasa, sastra, dan seni tutur diwariskan kepada generasi muda, budaya Banyumas tidak sekadar dikenang, tetapi terus hidup dan tumbuh di masa depan.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *