Jejak Pengabdian Mantan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin: Mengenang Sang Pemersatu Banua
RTNews. KALSEL – Jejak Pengabdian Mantan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin: Mengenang Sang Pemersatu Banua Kalimantan Selatan kembali berduka. Minggu, 6 September 2026, kabar duka itu berembus cepat: H. Rudy Ariffin, Gubernur Kalimantan Selatan dua periode (2005–2015) telah berpulang ke Rahmatullah pada usia 73 tahun.
Ada rasa kehilangan yang mendalam. Bagi masyarakat Banua, sosok almarhum bukan sekadar nama dalam lembaran sejarah pemerintahan, melainkan bagian penting dari perjalanan panjang pembangunan daerah. Ia adalah seorang birokrat tulen, pemimpin yang hangat, sekaligus pribadi yang meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang pernah berinteraksi dengannya.
Sepuluh tahun memimpin Kalsel —ditopang rekam jejak kepemimpinan dua periode sebagai Bupati Banjar—bukan rentang waktu yang singkat. Dalam kurun itulah fondasi pembangunan daerah dirancang dan dieksekusi, mulai dari penguatan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga sektor pertanian. Namun, esensi pembangunan bukanlah sekadar beton yang berdiri kokoh atau angka – angka statistik. Keberhasilan sejati seorang pemimpin terletak pada nilai dan keberlanjutan manfaat yang diwariskan kepada generasi penerusnya.
Merawat Nilai Sosial dan Keagamaan
Satu hal menonjol dari perjalanan almarhum adalah perhatian besarnya terhadap denyut kehidupan sosial dan keagamaan. Sejak memimpin Kabupaten Banjar, almarhum melahirkan regulasi bernafas religius seperti Perda Ramadan, yang kemudian mewarnai identitas kebijakan daerah.
Komitmen tersebut berlanjut secara konsisten ketika ia dipercaya memimpin Provinsi Kalimantan Selatan. Dukungan nyata terhadap berbagai fasilitas keagamaan dan pelayanan publik—termasuk kemudahan akses bagi Masjid Al Jihad Banjarmasin serta Rumah Sakit Islam Banjarmasin—menjadi bukti otentik pengabdiannya. Bagi saya, jejak tersebut menegaskan prinsip penting: pembangunan daerah yang ideal tidak boleh hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi harus berimbang dengan pembangunan manusianya serta penguatan nilai – nilai spiritualitas masyarakat.
Sikap Terbuka terhadap Kritik
Di luar kebijakan teknis, karakter kepemimpinan Rudy Ariffin yang patut diteladani adalah keterbukaannya. Ia tidak melihat kritik sebagai ancaman atau musuh. Dalam sebuah kesempatan, almarhum pernah menyampaikan bahwa kritik dari insan pers dan masyarakat merupakan masukan berharga agar roda pembangunan tetap berada di jalur yang benar.
Ia paham betul bahwa pemimpin yang baik tidak boleh terlena oleh pujian. Keterbukaan inilah yang membuat almarhum memiliki daya rekat sosial yang kuat. Sebagai birokrat senior, ia tetap rendah hati, mudah bergaul, dan konsisten merawat silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat. Tak heran jika pascakepergiannya, berbagai tokoh Banua mengenangnya sebagai sosok panutan dan pemersatu. Mewariskan Keteladanan
Keberhasilan kepala daerah sering kali diukur dari jajaran penghargaan, kilometer jalan yang terbangun, atau megahnya infrastruktur fisik. Namun, ukuran yang paling hakiki adalah bagaimana masyarakat mengenang sang pemimpin ketika kekuasaan itu telah usai.
Hari ini, tak ada lagi fasilitas protokoler, ruang kerja gubernur, maupun atribut kekuasaan yang melekat pada diri H. Rudy Ariffin. Yang tertinggal hanyalah nama baik, karya nyata, kenangan indah, dan doa yang terus mengalir dari masyarakat yang merasakan manfaat pengabdiannya.
Almarhum telah menyelesaikan tugasnya di dunia dengan paripurna. Kini, estafet pembangunan Banua berpindah ke pundak kita dan generasi penerus. Tugas kita bukan hanya meratapi kepergiannya, melainkan merawat dan melanjutkan nilai – nilai kebaikan yang telah ditanamkan: komitmen pengabdian, keterbukaan, serta kepedulian sosial.Selamat jalan, Ayahanda H. Rudy Ariffin. Kekuasaan boleh berlalu dan jabatan bisa berakhir, namun jejak kebaikan dan pengabdianmu akan tetap hidup abadi dalam ingatan masyarakat Banua.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Semoga seluruh dedikasi almarhum menjadi amal jariyah, diampuni segala khilafnya, serta ditempatkan di tempat mulia di sisi Allah SWT.
(Herman Soetiady)
